Warga Mentok gelar tradisi Ziarah Kute Seribu

id kute seribu di mentok,bangka barat hebat,tradisi di mentok

Suasana kegiatan ziarah dan doa arwah di Permakaman Keramat, Mentok. (babel.antaranews.com/ Donatus DP)

Mentok, Babel (ANTARA) - Ribuan warga Mentok, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar tradisi ziarah dan doa arwah Kute Seribu di komplek Permakaman Keramat belakang Masjid Jamik guna mengenang penyebar agama Islam di daerah itu.

Kegiatan dilaksanakan sejak Rabu pagi hingga sore hari dan dihadiri Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman, Pejabat Pemkab Bangka Barat, unsur Forkopimda, alim ulama, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

Selain ziarah kubur, acara diisi tausiah Al Habib Zaenal Ali Abidin bin Alwy Alkaff dan Al Habib Umar bin Alwy Assegaff, pada pagi hari kegiatan diawali dengan pembacaan Qasidah Burdah di Surau Tanjung, dilanjutkan arak-arakan menuju makam Keramat yang berlokasi di belakang Masjid Jamik Mentok.

Ketua panitia Ziarah Kute Seribu, Muhammad Asegaf mengatakan kegiatan ziarah dan doa arwah tersebut merupakan agenda rutin warga setempat guna mendoakan arwah para aulia, habaib, kyai, dan ulama, para tumenggung, pendiri Kota Mentok, dan para pendiri Masjid Jamik.

"Kegiatan tahun ini merupakan yang ke-10 dari acara haul," katanya.

Muhammad Assegaff berharap kegiatan ini dapat menguatkan keimanan dan tali persaudaraan sesama Muslim di Bangka Barat khususnya Kota Mentok.

Mewakili keluarga tumenggung yang disampaikan Abang Alpian memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan kegiatan itu dan pihaknya merasa terharu dan bersyukur karena dengan kegiatan itu membuat sejarah pendiri dan pejuang negeri di Mentok masih dikenang hingga saat ini.

"Mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini bermanfaat buat kita semua, semoga Allah SWT memberikan keberkahan buat kita semua," katanya. 

Baca juga: Puluhan ribu umat akan hadiri Haul Ke-126 Syekh Nawawi Al Bantani
Baca juga: Gubernur : haul Guru Tua pemersatu umat Islam di Indonesia
Baca juga: PBNU gelar haul pejuang Nahdlatul Ulama

Pewarta : Donatus Dasapurna Putranta
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar