Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

  • Minggu, 20 September 2026 22:43 WIB
Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Petani menyiram bibit padi yang disemaikan di Desa Puubunga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dibawah terik mentari yang menusuk kulit, jejak-jejak langkah terbentuk di areal tanah lapang yang akan di tanami bibit padi dengan metode SRI atau System of Rice Intensification. Sistem ini menitik beratkan pada perawatan khusus pada bibit benih padi sejak awal hingga panen. Penerapan sistem pertanian ini memiliki banyak keunggulan diantaranya lebih irit bahan, untuk pertanian konvensional dalam lahan satu hektare bisa menghabiskan 100 kilogram bibit sedangkan untuk pertanian organik hanya butuh lima kilogram bibit saja sehingga lebih murah secara modal. Sejak 2021, PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah melakukan pembinaan kepada sekitar 200 petani di wilayah yang tersebar pada empat kecamatan lingkar tambang yakni Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Baula, kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Wundulako dengan luasan mencapai 10,29 hektare. Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok) Salmi, program pemberdayaan masyarakat tersebut sangatlah berguna dan membantu mereka sebagai warga yang hidup pada wilayah lingkar tambang. Ia mengatakan dalam sekali panen, jika padi konvensional menghasilkan 10 karung dalam satu hektare, maka organik hanya mencapai 8 karung dengan bobot yang sama sehingga mengurangi biaya kuli karena lebih sedikit secara jumlah. Selain itu, padi dengan metode organik juga lebih tahan terhadap kekeringan sehingga lebih irit penggunaan air dan secara tidak langsung dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah karena tidak terkontaminasi pupuk kimia. Baginya, inisiatif PT Vale memberikan pendampingan seperti ini secara tidak langsung akan membentuk ekosistem pertanian sehat sekaligus menghilangkan ketergantungan warga terhadap pertambangan sebagai sumber penghasilan. ANTARA Sultra/Andry Denisah

Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Sejumlah petani binaan menanam bibit padi organik System of Rice Intensification (SRI) di Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dibawah terik mentari yang menusuk kulit, jejak-jejak langkah terbentuk di areal tanah lapang yang akan di tanami bibit padi dengan metode SRI atau System of Rice Intensification. Sistem ini menitik beratkan pada perawatan khusus pada bibit benih padi sejak awal hingga panen. Penerapan sistem pertanian ini memiliki banyak keunggulan diantaranya lebih irit bahan, untuk pertanian konvensional dalam lahan satu hektare bisa menghabiskan 100 kilogram bibit sedangkan untuk pertanian organik hanya butuh lima kilogram bibit saja sehingga lebih murah secara modal. Sejak 2021, PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah melakukan pembinaan kepada sekitar 200 petani di wilayah yang tersebar pada empat kecamatan lingkar tambang yakni Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Baula, kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Wundulako dengan luasan mencapai 10,29 hektare. Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok) Salmi, program pemberdayaan masyarakat tersebut sangatlah berguna dan membantu mereka sebagai warga yang hidup pada wilayah lingkar tambang. Ia mengatakan dalam sekali panen, jika padi konvensional menghasilkan 10 karung dalam satu hektare, maka organik hanya mencapai 8 karung dengan bobot yang sama sehingga mengurangi biaya kuli karena lebih sedikit secara jumlah. Selain itu, padi dengan metode organik juga lebih tahan terhadap kekeringan sehingga lebih irit penggunaan air dan secara tidak langsung dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah karena tidak terkontaminasi pupuk kimia. Baginya, inisiatif PT Vale memberikan pendampingan seperti ini secara tidak langsung akan membentuk ekosistem pertanian sehat sekaligus menghilangkan ketergantungan warga terhadap pertambangan sebagai sumber penghasilan. ANTARA Sultra/Andry Denisah

Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Foto udara sejumlah petani menanam bibit padi organik System of Rice Intensification (SRI) di Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dibawah terik mentari yang menusuk kulit, jejak-jejak langkah terbentuk di areal tanah lapang yang akan di tanami bibit padi dengan metode SRI atau System of Rice Intensification. Sistem ini menitik beratkan pada perawatan khusus pada bibit benih padi sejak awal hingga panen. Penerapan sistem pertanian ini memiliki banyak keunggulan diantaranya lebih irit bahan, untuk pertanian konvensional dalam lahan satu hektare bisa menghabiskan 100 kilogram bibit sedangkan untuk pertanian organik hanya butuh lima kilogram bibit saja sehingga lebih murah secara modal. Sejak 2021, PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah melakukan pembinaan kepada sekitar 200 petani di wilayah yang tersebar pada empat kecamatan lingkar tambang yakni Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Baula, kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Wundulako dengan luasan mencapai 10,29 hektare. Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok) Salmi, program pemberdayaan masyarakat tersebut sangatlah berguna dan membantu mereka sebagai warga yang hidup pada wilayah lingkar tambang. Ia mengatakan dalam sekali panen, jika padi konvensional menghasilkan 10 karung dalam satu hektare, maka organik hanya mencapai 8 karung dengan bobot yang sama sehingga mengurangi biaya kuli karena lebih sedikit secara jumlah. Selain itu, padi dengan metode organik juga lebih tahan terhadap kekeringan sehingga lebih irit penggunaan air dan secara tidak langsung dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah karena tidak terkontaminasi pupuk kimia. Baginya, inisiatif PT Vale memberikan pendampingan seperti ini secara tidak langsung akan membentuk ekosistem pertanian sehat sekaligus menghilangkan ketergantungan warga terhadap pertambangan sebagai sumber penghasilan. ANTARA Sultra/Andry Denisah

Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Sejumlah petani menanam bibit padi organik System of Rice Intensification (SRI) di Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dibawah terik mentari yang menusuk kulit, jejak-jejak langkah terbentuk di areal tanah lapang yang akan di tanami bibit padi dengan metode SRI atau System of Rice Intensification. Sistem ini menitik beratkan pada perawatan khusus pada bibit benih padi sejak awal hingga panen. Penerapan sistem pertanian ini memiliki banyak keunggulan diantaranya lebih irit bahan, untuk pertanian konvensional dalam lahan satu hektare bisa menghabiskan 100 kilogram bibit sedangkan untuk pertanian organik hanya butuh lima kilogram bibit saja sehingga lebih murah secara modal. Sejak 2021, PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah melakukan pembinaan kepada sekitar 200 petani di wilayah yang tersebar pada empat kecamatan lingkar tambang yakni Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Baula, kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Wundulako dengan luasan mencapai 10,29 hektare. Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok) Salmi, program pemberdayaan masyarakat tersebut sangatlah berguna dan membantu mereka sebagai warga yang hidup pada wilayah lingkar tambang. Ia mengatakan dalam sekali panen, jika padi konvensional menghasilkan 10 karung dalam satu hektare, maka organik hanya mencapai 8 karung dengan bobot yang sama sehingga mengurangi biaya kuli karena lebih sedikit secara jumlah. Selain itu, padi dengan metode organik juga lebih tahan terhadap kekeringan sehingga lebih irit penggunaan air dan secara tidak langsung dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah karena tidak terkontaminasi pupuk kimia. Baginya, inisiatif PT Vale memberikan pendampingan seperti ini secara tidak langsung akan membentuk ekosistem pertanian sehat sekaligus menghilangkan ketergantungan warga terhadap pertambangan sebagai sumber penghasilan. ANTARA Sultra/Andry Denisah

Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Petani menyemprotkan pupuk organik ke padi di Desa Puubunga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dibawah terik mentari yang menusuk kulit, jejak-jejak langkah terbentuk di areal tanah lapang yang akan di tanami bibit padi dengan metode SRI atau System of Rice Intensification. Sistem ini menitik beratkan pada perawatan khusus pada bibit benih padi sejak awal hingga panen. Penerapan sistem pertanian ini memiliki banyak keunggulan diantaranya lebih irit bahan, untuk pertanian konvensional dalam lahan satu hektare bisa menghabiskan 100 kilogram bibit sedangkan untuk pertanian organik hanya butuh lima kilogram bibit saja sehingga lebih murah secara modal. Sejak 2021, PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah melakukan pembinaan kepada sekitar 200 petani di wilayah yang tersebar pada empat kecamatan lingkar tambang yakni Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Baula, kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Wundulako dengan luasan mencapai 10,29 hektare. Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok) Salmi, program pemberdayaan masyarakat tersebut sangatlah berguna dan membantu mereka sebagai warga yang hidup pada wilayah lingkar tambang. Ia mengatakan dalam sekali panen, jika padi konvensional menghasilkan 10 karung dalam satu hektare, maka organik hanya mencapai 8 karung dengan bobot yang sama sehingga mengurangi biaya kuli karena lebih sedikit secara jumlah. Selain itu, padi dengan metode organik juga lebih tahan terhadap kekeringan sehingga lebih irit penggunaan air dan secara tidak langsung dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah karena tidak terkontaminasi pupuk kimia. Baginya, inisiatif PT Vale memberikan pendampingan seperti ini secara tidak langsung akan membentuk ekosistem pertanian sehat sekaligus menghilangkan ketergantungan warga terhadap pertambangan sebagai sumber penghasilan. ANTARA Sultra/Andry Denisah

Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Petani menunjukkan padi yang sudah mulai berisi di Desa Puubunga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dibawah terik mentari yang menusuk kulit, jejak-jejak langkah terbentuk di areal tanah lapang yang akan di tanami bibit padi dengan metode SRI atau System of Rice Intensification. Sistem ini menitik beratkan pada perawatan khusus pada bibit benih padi sejak awal hingga panen. Penerapan sistem pertanian ini memiliki banyak keunggulan diantaranya lebih irit bahan, untuk pertanian konvensional dalam lahan satu hektare bisa menghabiskan 100 kilogram bibit sedangkan untuk pertanian organik hanya butuh lima kilogram bibit saja sehingga lebih murah secara modal. Sejak 2021, PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah melakukan pembinaan kepada sekitar 200 petani di wilayah yang tersebar pada empat kecamatan lingkar tambang yakni Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Baula, kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Wundulako dengan luasan mencapai 10,29 hektare. Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok) Salmi, program pemberdayaan masyarakat tersebut sangatlah berguna dan membantu mereka sebagai warga yang hidup pada wilayah lingkar tambang. Ia mengatakan dalam sekali panen, jika padi konvensional menghasilkan 10 karung dalam satu hektare, maka organik hanya mencapai 8 karung dengan bobot yang sama sehingga mengurangi biaya kuli karena lebih sedikit secara jumlah. Selain itu, padi dengan metode organik juga lebih tahan terhadap kekeringan sehingga lebih irit penggunaan air dan secara tidak langsung dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah karena tidak terkontaminasi pupuk kimia. Baginya, inisiatif PT Vale memberikan pendampingan seperti ini secara tidak langsung akan membentuk ekosistem pertanian sehat sekaligus menghilangkan ketergantungan warga terhadap pertambangan sebagai sumber penghasilan. ANTARA Sultra/Andry Denisah

Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Petani menimbang beras organik yang siap dipasarkan di Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dibawah terik mentari yang menusuk kulit, jejak-jejak langkah terbentuk di areal tanah lapang yang akan di tanami bibit padi dengan metode SRI atau System of Rice Intensification. Sistem ini menitik beratkan pada perawatan khusus pada bibit benih padi sejak awal hingga panen. Penerapan sistem pertanian ini memiliki banyak keunggulan diantaranya lebih irit bahan, untuk pertanian konvensional dalam lahan satu hektare bisa menghabiskan 100 kilogram bibit sedangkan untuk pertanian organik hanya butuh lima kilogram bibit saja sehingga lebih murah secara modal. Sejak 2021, PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah melakukan pembinaan kepada sekitar 200 petani di wilayah yang tersebar pada empat kecamatan lingkar tambang yakni Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Baula, kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Wundulako dengan luasan mencapai 10,29 hektare. Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok) Salmi, program pemberdayaan masyarakat tersebut sangatlah berguna dan membantu mereka sebagai warga yang hidup pada wilayah lingkar tambang. Ia mengatakan dalam sekali panen, jika padi konvensional menghasilkan 10 karung dalam satu hektare, maka organik hanya mencapai 8 karung dengan bobot yang sama sehingga mengurangi biaya kuli karena lebih sedikit secara jumlah. Selain itu, padi dengan metode organik juga lebih tahan terhadap kekeringan sehingga lebih irit penggunaan air dan secara tidak langsung dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah karena tidak terkontaminasi pupuk kimia. Baginya, inisiatif PT Vale memberikan pendampingan seperti ini secara tidak langsung akan membentuk ekosistem pertanian sehat sekaligus menghilangkan ketergantungan warga terhadap pertambangan sebagai sumber penghasilan. ANTARA Sultra/Andry Denisah

Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Beras organik hasil produksi petani yang siap dipasarkan di Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dibawah terik mentari yang menusuk kulit, jejak-jejak langkah terbentuk di areal tanah lapang yang akan di tanami bibit padi dengan metode SRI atau System of Rice Intensification. Sistem ini menitik beratkan pada perawatan khusus pada bibit benih padi sejak awal hingga panen. Penerapan sistem pertanian ini memiliki banyak keunggulan diantaranya lebih irit bahan, untuk pertanian konvensional dalam lahan satu hektare bisa menghabiskan 100 kilogram bibit sedangkan untuk pertanian organik hanya butuh lima kilogram bibit saja sehingga lebih murah secara modal. Sejak 2021, PT Vale Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah melakukan pembinaan kepada sekitar 200 petani di wilayah yang tersebar pada empat kecamatan lingkar tambang yakni Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Baula, kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Wundulako dengan luasan mencapai 10,29 hektare. Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka (Aspok) Salmi, program pemberdayaan masyarakat tersebut sangatlah berguna dan membantu mereka sebagai warga yang hidup pada wilayah lingkar tambang. Ia mengatakan dalam sekali panen, jika padi konvensional menghasilkan 10 karung dalam satu hektare, maka organik hanya mencapai 8 karung dengan bobot yang sama sehingga mengurangi biaya kuli karena lebih sedikit secara jumlah. Selain itu, padi dengan metode organik juga lebih tahan terhadap kekeringan sehingga lebih irit penggunaan air dan secara tidak langsung dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah karena tidak terkontaminasi pupuk kimia. Baginya, inisiatif PT Vale memberikan pendampingan seperti ini secara tidak langsung akan membentuk ekosistem pertanian sehat sekaligus menghilangkan ketergantungan warga terhadap pertambangan sebagai sumber penghasilan. ANTARA Sultra/Andry Denisah

Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan
Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan
Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan
Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan
Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan
Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan
Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan
Wujud pemberdayaan di lingkar tambang melalui pertanian ramah lingkungan

Foto Lainnya