
Menyemai Harapan lewat Pertanian Organik di Lingkar Tambang Kolaka

Kolaka (ANTARA) - Di bawah terik matahari, suara gemericik air irigasi mengalir lembut di sela petak sawah Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), para petani tampak sibuk membungkuk di atas lumpur gembur, membudidayakan bibit padi dengan menerapkan metode System of Rice Intensification (SRI) organik.
Penerapan metode SRI organik ini merupakan bagian dari transformasi pertanian berkelanjutan yang diusung PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa. Program ini mengubah pola tanam petani dari sistem konvensional berbasis bahan kimia menjadi metode organik yang ramah lingkungan.
Melalui Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB), PT Vale telah membina sekitar 51 petani yang tersebar di empat kecamatan kawasan lingkar tambang, yaitu Baula, Pomalaa, Tanggetada, dan Wundulako, dengan total luas lahan mencapai 11,57 hektare. Pada musim tanam terakhir, rata-rata produksi padi organik dari empat kecamatan tersebut berhasil menembus angka 6,7 ton per hektare.
Pengembangan budi daya padi organik yang dimulai sejak 2021 ini menjadi bukti komitmen PT Vale Indonesia Tbk. Perusahaan tidak hanya berfokus pada hilirisasi nikel, tetapi juga menciptakan nilai tambah berbasis keberlanjutan bagi masyarakat lokal.
Pertanian berkelanjutan diposisikan sebagai salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi warga. Program ini mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memperluas wawasan, teknologi, dan praktik pertanian yang lebih efisien serta ramah lingkungan.
Melalui langkah ini, Kabupaten Kolaka diharapkan tumbuh menjadi sentra inovasi pertanian yang mampu mendukung program ketahanan pangan nasional.

Salah satu petani binaan di IGP Pomalaa, Indah Susanti, mengungkapkan bahwa manfaat program pemberdayaan ini sangat dirasakan oleh warga sekitar kawasan operasional perusahaan. Dari sisi hasil panen, metode ini terbukti memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih menguntungkan.
Pembinaan berkesinambungan yang diberikan PT Vale, mulai dari tahap penyemaian bibit hingga panen berhasil membangun ekosistem pertanian sehat. Langkah ini sekaligus menjadi strategi jangka panjang untuk membebaskan warga dari ketergantungan pada sektor pertambangan sebagai satu-satunya sumber penghasilan.
"Manfaat yang kami rasakan sangat baik dengan adanya beras organik ini," kata Indah.
Ia menambahkan, penerapan metode SRI organik dapat menekan biaya produksi secara signifikan. Penggunaan pupuk organik secara berkesinambungan mampu memulihkan tekstur dan struktur tanah, sekaligus memutus ketergantungan petani pada bahan kimia buatan pabrik.
Melalui pendampingan teknis berkala dari PT Vale, para petani dibekali keterampilan meracik pupuk organik dan pestisida alami secara mandiri menggunakan bahan lokal, seperti kotoran hewan, sisa tanaman hijau, dan limbah organik.
"Dulu saat masih pakai kimia, semua harus beli di toko. Sejak ada pendampingan organik dari PT Vale, ilmu paling berharga bagi kami adalah bisa membuat pupuk dan obat hama sendiri. Kami tidak beli bahan kimia lagi, sehingga biaya produksi turun drastis dan keuntungan bersih jauh lebih besar," ujar Indah.
Dampak ekonomi dari transformasi ini sangat nyata. Sebelum beralih ke sistem organik, pendapatan rata-rata petani hanya berkisar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per bulan. Kini, pendapatan mereka melonjak menjadi Rp7 juta, bahkan mampu menembus Rp10 juta per bulan dari penjualan beras, pupuk organik, dan tanaman hortikultura.
"Dulu, pendapatan saya dalam satu bulan itu paling Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Sekarang, bisa dapat Rp7 juta hingga Rp10 juta," ujarnya.

Untuk menjaga keberlanjutan usaha tani, Asosiasi Petani Organik Kolaka (ASPOK) hadir sebagai wadah penampung dan penyalur hasil panen. Asosiasi ini menerapkan skema jaminan harga dengan membeli gabah atau padi bersih langsung dari petani seharga Rp1 juta per karung (kapasitas 50 kg).
ASPOK turut melibatkan warga kawasan lingkar tambang dalam proses penjemuran, penapisan, dan penyortiran guna memastikan produk bebas dari batu maupun bulir pecah. Beras organik yang diproduksi terdiri dari beberapa varietas unggulan, seperti Mentik Susu (beras putih) seharga Rp24.000 per kg, serta beras merah (Arumbah) dan beras hitam (Jeliteng) seharga Rp35.000 per kg.
Guna menjaga mutu serta mencegah pemalsuan produk, ASPOK menerapkan rantai distribusi satu pintu. Beras organik binaan ini dikenal tidak mudah basi meski disimpan dua hingga empat hari setelah dimasak, serta aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. Bahkan, komoditas ini menjadi bahan pangan terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Kolaka.
Keberhasilan kawasan pertanian ini tidak hanya dilirik pasar lokal dan pejabat daerah, tetapi juga menjadi destinasi studi banding bagi tamu serta mitra bisnis PT Vale dari berbagai negara, seperti China, Brazil, dan Inggris. Keberlanjutan program PSRLB membuktikan bahwa aktivitas hilirisasi nikel di IGP Pomalaa dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kolaka, Anas Yusuf, menilai budi daya padi organik binaan PT Vale dapat meningkatkan produktivitas petani secara signifikan. Program pemberdayaan ini juga sejalan dengan agenda nasional dalam mendukung Kabupaten Sehat yang menuntut pengurangan penggunaan bahan kimia pada sektor pertanian dan pangan.
"Saya kira itu bagus, karena mendukung penilaian Kabupaten Sehat. Salah satu indikator penilaiannya tidak mempergunakan bahan-bahan kimia. Kita melihat potensinya sangat baik, apalagi untuk beras organik binaan PT Vale ini hasilnya langsung ada pembeli karena memang dicari masyarakat yang semakin sadar kesehatan," kata Anas Yusuf.

Anas menjelaskan, selain berdampak positif bagi kesehatan, beras organik memiliki potensi pasar yang sangat menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat.
Ia menambahkan bahwa pihak pemerintah daerah berencana mereplikasi dan mengembangkan model budi daya ini ke wilayah baru, yaitu di Kelurahan Induha, Kecamatan Latambaga, Kabupaten Kolaka, dengan potensi luas lahan sekitar delapan hingga sembilan hektare.
"Ada rencana kita di Kelurahan Induha, Kecamatan Latambaga, sekitar delapan atau sembilan hektar untuk kita bina ke depannya," tuturnya.
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kolaka juga siap memberikan intervensi bantuan sarana dan prasarana, mulai dari benih, pendampingan teknis, jaringan irigasi, hingga pompa air untuk mengantisipasi dampak musim kemarau.
Pemerintah daerah optimistis pengembangan padi organik di Kabupaten Kolaka tidak hanya mendukung program nasional Kabupaten Sehat, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi para petani setempat secara berkelanjutan.
Pewarta : Andika
Editor:
Faidin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
