Logo Header Antaranews Sultra

ETF Emas Indonesia dan taruhan keuangan baru Asia

Jumat, 28 Agustus 2026 15:32 WIB
Image Print
Analis Yunior Bank Indonesia Rabiul Misa. (ANTARA/HO-Pribadi)

Kendari (ANTARA) -

Pada 10 Agustus, Indonesia mengambil langkah kecil tetapi berpotensi penting dalam memperdalam pasar keuangannya: emas masuk ke bursa.

Bursa Efek Indonesia meluncurkan lima exchange-traded fund (ETF) berbasis emas yang dikelola oleh lima perusahaan investasi. Seluruhnya memenuhi prinsip syariah dan mulai diperdagangkan bertepatan dengan peringatan 49 tahun pasar modal Indonesia.

Skala awalnya memang masih terbatas. Kelima ETF tersebut memiliki nilai gabungan sekitar Rp21,7 miliar, angka yang tentu belum cukup untuk mengubah pasar emas Indonesia dalam semalam.

Namun, di situlah poin utamanya. Peluncuran tersebut bukan sekadar tentang menambah instrumen investasi baru, melainkan tentang membawa emas yang selama ini tersimpan sebagai kekayaan rumah tangga ke dalam sistem intermediasi keuangan.

Indonesia tidak kekurangan emas. Yang selama ini kurang adalah infrastruktur keuangan yang memungkinkan kekayaan tersebut bekerja lebih produktif di dalam perekonomian.

Emas Menjelma Aset Keuangan

Indonesia memiliki fondasi fisik yang kuat. Berdasarkan estimasi United States Geological Surveyyang dikutip Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Indonesia memproduksi sekitar 90 ton emas pada 2025, dengan cadangan diperkirakan mencapai sekitar 3.600 ton.

Permintaan domestik juga tidak kalah penting. Permintaan masyarakat Indonesia terhadap emas batangan dan koin mencapai 31,6 ton pada 2025, meningkat 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan betapa dalamnya emas tertanam dalam kebiasaan masyarakat Indonesia sebagai instrumen tabungan dan investasi.

Namun, hubungan Indonesia dengan emas tidak berhenti pada tambang dan rumah tangga. Bank Indonesia memiliki emas moneter senilai sekitar US$11,38 miliar pada Juli 2026, atau sekitar 7,8 persen dari total aset cadangan devisa resmi yang mencapai US$145,34 miliar.

Secara global, emas juga sedang mengalami transformasi serupa. World Gold Council melaporkan permintaan emas dunia menembus lebih dari 5.000 ton untuk pertama kalinya pada 2025, sementara kepemilikan ETF emas global meningkat 801 ton. Harga rata-rata emas LBMA melonjak 44 persen menjadi US$3.431,5 per troy ounce, sementara permintaan investasi meningkat 84 persen.

Indonesia sedang membangun infrastruktur untuk ikut mengambil bagian dalam perubahan tersebut. Pada April, Otoritas Jasa Keuangan menyetujui Pegadaian sebagai pemegang rekening KSEI, sehingga Electronic Gold Receipts (EGR) yang didukung emas fisik dapat dicatat dalam infrastruktur kustodian sentral.

EGR dapat menjadi aset dasar bagi ETF emas. Emas fisik yang disimpan di dalam vault dengan demikian dapat direpresentasikan dalam infrastruktur pasar modal, kepemilikannya dicatat secara elektronik, dan eksposurnya dapat diperdagangkan.

Ini menciptakan jembatan antara ekonomi emas fisik Indonesia dan sistem keuangannya.

Perlombaan Emas Baru di Asia

Indonesia mengambil langkah ini ketika negara-negara Asia sedang berlomba membangun infrastruktur yang mengelilingi perdagangan emas. Singapura telah mengumumkan rencana untuk memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan emas Asia, sementara Hong Kong mengembangkan uji coba central clearing and settlement emas serta Delivery Connect dengan Shanghai Gold Exchange.

Persaingan tersebut bukan sekadar mengenai di mana emas batangan disimpan. Persaingannya mencakup kustodian, penyelesaian transaksi, likuiditas, pembiayaan, perdagangan, dan pada akhirnya pembentukan harga.

Indonesia masuk dengan proposisi yang berbeda. Singapura memiliki konektivitas keuangan internasional; Hong Kong memiliki kedekatan dengan China dan Shanghai Gold Exchange. Indonesia memiliki produksi emas, cadangan yang besar, pasar domestik yang luas, serta masyarakat yang telah terbiasa menyimpan emas sebagai penyimpan nilai.

Karena itu, Indonesia tidak perlu meniru Singapura atau Hong Kong. Strategi yang lebih kredibel adalah membangun dari kekuatan domestiknya sendiri: menghubungkan pertambangan dan pemurnian dengan bullion banking, kustodian, dan pembiayaan, kemudian menghubungkan pasar tersebut dengan EGR, ETF, dan berbagai instrumen pasar modal lainnya.

Jika terintegrasi, nilai ekonomi emas tidak lagi berhenti di tambang atau toko emas. Emas dapat beredar melalui sistem keuangan, menciptakan peluang baru bagi intermediasi dan pendalaman pasar keuangan.

Melampaui Sekadar ETF Emas

Namun, finansialisasi emas tidak secara otomatis menjadikan sebuah negara sebagai pusat keuangan.

Lima ETF tersebut merupakan titik awal. Akan tetapi, skala awal yang masih terbatas menunjukkan tantangan berikutnya: Indonesia membutuhkan likuiditas, bukan sekadar lebih banyak produk. Pasar ETF yang berfungsi dengan baik membutuhkan investor aktif, market maker, volume perdagangan, serta mekanisme creation and redemption yang efisien.

Kepercayaan juga sama pentingnya. Investor ETF memegang klaim finansial, bukan emas fisik secara langsung. Karena itu, kustodian, proses assaying, audit, pencatatan kepemilikan, dan penyelesaian transaksi sama pentingnya dengan harga emas itu sendiri.

Indonesia telah mulai membangun fondasi tersebut melalui kerangka EGR. Namun, infrastruktur belum sama dengan ekosistem.

Indonesia masih perlu menghubungkan pertambangan, pemurnian, perdagangan fisik, bullion banking, platform emas digital, bursa komoditas, dan pasar modal.

Jika koneksi tersebut semakin dalam, emas dapat menjadi aset keuangan yang lebih produktif. Masyarakat dapat menyimpannya sebagai tabungan, bank dapat membiayainya, institusi dapat mengelolanya, investor dapat memperdagangkannya, dan pasar modal dapat mengubahnya menjadi klaim investasi yang dapat diperdagangkan.

Pertanyaan strategisnya bukan seberapa cepat Jakarta dapat menjadi pusat emas global. Pertanyaannya adalah apakah Indonesia dapat menjadi salah satu simpul penting dalam arsitektur emas Asia yang sedang berkembang.

Untuk mewujudkannya, Indonesia membutuhkan standar yang kredibel, likuiditas yang dalam, partisipasi institusional, penyelesaian transaksi yang efisien, serta konektivitas lintas negara yang lebih kuat.

Pada akhirnya, cerita tentang emas bukan hanya tentang berapa banyak logam mulia yang tersimpan di bawah tanah Indonesia. Cerita ini juga tentang siapa yang menyimpannya, siapa yang membiayainya, siapa yang memperdagangkannya, dan siapa yang membantu menentukan harganya.

Indonesia sudah memiliki emas di bawah tanah, emas di rumah tangga, dan emas moneter senilai lebih dari US$11 miliar di neraca bank sentral. Yang kini sedang dibangun adalah infrastruktur keuangan yang menghubungkan berbagai sumber kekayaan tersebut.

ETF-ETF tersebut mungkin dimulai dengan aset yang relatif kecil. Namun, nilai strategisnya terletak pada apa yang dapat dimungkinkan setelahnya.

Jika Indonesia berhasil, negara ini tidak sekadar memiliki lebih banyak cara untuk membeli emas. Indonesia akan memiliki lebih banyak cara untuk membuat emas bekerja bagi perekonomiannya.

Dan dalam perlombaan Asia membangun generasi baru infrastruktur keuangan, itulah taruhan yang sesungguhnya.

*) Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026