Logo Header Antaranews Sultra

Bappenas: Hilirisasi hijau kunci produk mineral RI tembus pasar global

Rabu, 26 Agustus 2026 14:35 WIB
Image Print
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyampaikan paparan dalam Indonesia Sustainability 360 Forum 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026). (ANTARA/Shofi Ayudiana)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan pentingnya penerapan prinsip rendah emisi dalam pengembangan industri hilirisasi mineral Indonesia agar produk nasional mampu bersaing di pasar global.

Dalam Indonesia Sustainability 360 Forum 2026 di Jakarta, Rabu, Rachmat mengatakan hilirisasi mineral kritis, seperti nikel, tembaga dan bauksit, tidak cukup hanya meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri. Pengembangan industri tersebut juga perlu menerapkan rantai pasok yang efisien dan beremisi rendah.

"Hilirisasi mineral kritis seperti nikel, tembaga, bauksit wajib menerapkan rantai pasok eco-efficient dan terintegrasi emisi rendah. Ini penting agar produk industri nasional mampu masuk pasar premium global dan memenuhi standar kriteria karbon ketat seperti Carbon Border Adjustment Mechanism atau CBAM," katanya.

Menurut Rachmat, transformasi menuju ekonomi hijau kini menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat daya saing nasional.

Keberlanjutan, kata dia, tidak lagi dapat diposisikan sekadar sebagai kewajiban, melainkan menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan produktivitas, mengamankan investasi dan memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah pun telah menetapkan ekonomi hijau sebagai salah satu pilar utama transformasi menuju Indonesia Emas 2045.

Indonesia, lanjut dia, menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6-8 persen sekaligus mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Untuk itu, pertumbuhan ekonomi ke depan perlu berjalan searah dengan upaya penurunan emisi.

Selain hilirisasi hijau, pemerintah juga mendorong percepatan transisi energi melalui pemanfaatan energi baru terbarukan, pengembangan ekonomi sirkular, serta penguatan pertanian dan ekonomi biru berkelanjutan.

Menurut Rachmat, transformasi tersebut diperlukan untuk mengubah keunggulan komparatif Indonesia yang berbasis modal alam menjadi keunggulan kompetitif dengan nilai tambah tinggi dan berkelanjutan.




Pewarta :
Editor: Faidin
COPYRIGHT © ANTARA 2026