Logo Header Antaranews Sultra

UMKM Sultra: Gerai ekspor mengangkat pamor

Jumat, 21 Agustus 2026 12:07 WIB
Image Print
Analis Yunior Bank Indonesia Rabiul Misa. (ANTARA/HO-Pribadi)

Kendari (ANTARA) -

Sulawesi Tenggara (Sultra) sedang mencoba membuka pintu yang lebih lebar bagi produk lokal menuju pasar global.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara bersama Bank Indonesia, Bea Cukai, Badan Karantina Indonesia, dan sejumlah pemangku kepentingan menghadirkan Gerai Ekspor Sultra (Getra), sebuah layanan terpadu yang dirancang untuk membantu UMKM memperoleh konsultasi, pelatihan, pendampingan, hingga fasilitasi ekspor.

Inisiatif ini tentu membawa harapan baru. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting bukan lagi apakah Sultra memiliki gerai ekspor, melainkan apakah cukup banyak UMKM Sultra yang benar-benar siap masuk ke dalamnya dan bertahan di pasar global.

Menjemput Peluang Pasar Global

Pertanyaan tersebut penting karena ekspor Sultra selama ini masih sangat identik dengan komoditas berskala besar. Pada triwulan I 2026, ekspor Sultra masih didominasi oleh feronikel dan stainless steel, yang menunjukkan bahwa struktur ekspor daerah ini belum banyak berubah dari periode sebelumnya. Artinya, ketika kita berbicara mengenai ekspor Sultra, wajah yang muncul masih lebih banyak berupa industri besar dan komoditas mineral dibanding produk UMKM.

Di sinilah Gerai Ekspor menemukan panggungnya. Kehadirannya seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai tempat konsultasi administrasi ekspor. Ia harus menjadi bagian dari strategi mengubah struktur ekonomi daerah: dari sekadar menjadi daerah penghasil komoditas menjadi daerah yang juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan merek lokal yang dikenal di luar negeri.

Secara agregat, kinerja ekspor Sultra sebenarnya menunjukkan potensi yang besar. Pada April 2026, ekspor Sultra mencapai US$432,09 juta, tumbuh 35,97 persen dibandingkan April 2025.

Meski begitu, pada Mei 2026 nilainya kembali turun menjadi US$215,93 juta atau merosot 29,76 persen secara tahunan. Dinamika tersebut memperlihatkan bahwa ekspor daerah masih cukup sensitif terhadap perkembangan komoditas utama dan kondisi pasar global.

Masalahnya bukan bahwa ekspor komoditas besar harus dikurangi. Justru industri tersebut tetap penting bagi pertumbuhan Sultra. Persoalannya adalah bagaimana manfaat aktivitas perdagangan internasional tersebut dapat menciptakan ekosistem usaha yang lebih luas, termasuk bagi pelaku UMKM.

Gerai Ekspor dapat mengisi ruang tersebut. UMKM yang memiliki produk olahan pangan, rempah, hasil perikanan, kerajinan, fesyen, maupun komoditas pertanian lokal tidak seharusnya berhenti pada status “produk unggulan daerah”. Predikat tersebut baru memiliki makna ekonomi ketika produk mampu memenuhi standar pasar, memiliki pembeli, dikirim secara konsisten, dan menghasilkan margin yang layak bagi pelaku usaha.

Sebab, ekspor bukan sekadar memindahkan barang dari Kendari ke negara lain. Ekspor adalah kompetisi mengenai kualitas, harga, ketepatan waktu, kontinuitas pasokan, sertifikasi, kemasan, kemampuan negosiasi, hingga reputasi.

Karena itu, tantangan terbesar Gerai Ekspor justru berada di luar gerainya.

Bayangkan seorang pelaku UMKM di Konawe Selatan atau Kolaka yang memiliki produk berkualitas. Ia mungkin sudah memiliki kemasan menarik dan pemasaran digital. Tetapi ketika calon pembeli dari luar negeri meminta sertifikasi tertentu, spesifikasi produk, volume pasokan tertentu, atau pengiriman rutin setiap bulan, persoalannya menjadi jauh lebih kompleks.

Pada titik inilah pendampingan harus bergerak dari pendekatan administratif menuju pendekatan bisnis.

Gerai Ekspor idealnya mampu menjawab pertanyaan yang sangat praktis: produk apa yang punya permintaan di pasar tertentu? Berapa harga kompetitornya? Sertifikasi apa yang wajib dipenuhi? Bagaimana menghitung harga ekspor? Siapa calon buyer-nya? Berapa kapasitas produksi yang realistis? Bagaimana pembiayaannya? Dan yang tak kalah penting, bagaimana memastikan barang sampai ke pembeli dengan biaya logistik yang kompetitif?

Mengubah Potensi Menjadi Ekspor

Gerai Ekspor akan memberikan dampak jauh lebih besar apabila diposisikan sebagai “mesin orkestrasi” ekosistem ekspor UMKM Sultra, bukan sekadar etalase layanan pemerintah.

Ada setidaknya tiga agenda yang perlu dikerjakan.

Pertama, membangun export readiness index bagi UMKM Sultra. Pemerintah dan lembaga pendamping perlu mengetahui dengan jelas berapa banyak UMKM yang sudah siap ekspor, hampir siap ekspor, dan masih berada pada tahap domestik. Pemetaan tersebut penting agar intervensi tidak seragam. UMKM yang sudah memiliki sertifikasi tentu membutuhkan perlakuan berbeda dengan usaha yang bahkan belum memiliki pencatatan keuangan.

Kedua, membangun agregasi. Salah satu kelemahan UMKM adalah skala produksi. Buyer internasional membutuhkan kontinuitas, sementara kapasitas satu UMKM sering kali terbatas. Karena itu, Gerai Ekspor perlu mendorong model collective exporting melalui koperasi, klaster usaha, atau agregator. Dengan cara tersebut, produk dari beberapa pelaku usaha dapat dikonsolidasikan sehingga memenuhi volume dan kontinuitas yang dipersyaratkan pasar global.

Ketiga, menjadikan digitalisasi sebagai bagian dari strategi ekspor, bukan sekadar transaksi pembayaran. UMKM perlu dibantu membaca pasar digital, membangun katalog internasional, menggunakan data permintaan, memperbaiki branding, serta memanfaatkan pembayaran digital dalam rantai perdagangan. Ekosistem UMKM Sultra memang membutuhkan konektivitas dari hulu hingga hilir—mulai produksi, pembiayaan, pembayaran, logistik, hingga akses pasar.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Gerai Ekspor bukanlah jumlah kegiatan, pelatihan, atau UMKM yang datang berkonsultasi, melainkan seberapa banyak yang memperoleh buyer baru, melakukan ekspor secara berulang, meningkatkan nilai penjualan, menyerap tenaga kerja, dan menciptakan nilai tambah di Sulawesi Tenggara.

Karena itu, Gerai Ekspor sebaiknya tidak berhenti sebagai sebuah “gerai”, melainkan menjadi jembatan antara potensi lokal dan permintaan global. Sultra memiliki kakao, kopi, kelapa, hasil perikanan, rempah, kerajinan, hingga beragam produk budaya yang memiliki keunikan dan cerita. Dunia tidak kekurangan barang; pasar global justru semakin mencari produk yang berkualitas, autentik, terlacak, dan memiliki nilai tambah.

Tugas berikutnya adalah memastikan produk-produk tersebut tidak hanya tampil di pameran lokal, tetapi benar-benar menemukan pembelinya di Tokyo, Dubai, Sydney, Singapura, hingga Eropa. Jika itu terwujud, Gerai Ekspor bukan sekadar membantu UMKM Sultra “go global”, tetapi dapat menjadi salah satu pintu penting bagi Sulawesi Tenggara untuk mengubah kekayaan lokal menjadi nilai ekonomi global.

*) Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026