Logo Header Antaranews Sultra

Jalur Besi, Jalan Baru Sulawesi

Senin, 27 Juli 2026 11:40 WIB
Image Print
Analis Yunior Bank Indonesia Rabiul Misa. (ANTARA/HO-Pribadi)

Kendari (ANTARA) -

Keinginan Indonesia untuk belajar dari Jepang dalam membangun jaringan kereta api hingga 14 ribu kilometer layak diapresiasi. Di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas nasional, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa rel kereta menjadi sarana transportasi sekaligus fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia membutuhkan lebih banyak jalur kereta, melainkan wilayah mana yang paling siap menjadikan rel sebagai mesin pertumbuhan baru.

Selama ini, pembangunan perkeretaapian nasional masih sangat berpusat di Pulau Jawa. Di luar Jawa, sebagian besar aktivitas ekonomi masih bergantung pada jalan raya dan angkutan laut.

Akibatnya, distribusi barang menghadapi biaya logistik yang tinggi, kemacetan semakin meningkat, sementara kerusakan jalan akibat kendaraan bertonase besar menjadi persoalan yang terus berulang. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada satu moda transportasi telah mencapai batas efisiensinya.

Artinya, Sulawesi layak ditempatkan sebagai prioritas berikutnya. Bukan semata karena luas wilayahnya, tetapi karena struktur ekonominya telah berubah jauh lebih cepat dibandingkan infrastruktur yang menopangnya. Sulawesi bukan lagi kawasan yang hanya mengandalkan sektor primer.

Hilirisasi mineral, pengembangan kawasan industri, serta ekspansi pelabuhan telah membentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memerlukan sistem transportasi dengan kapasitas lebih besar, biaya lebih rendah, dan tingkat keandalan yang lebih tinggi.

Ketika Infrastruktur Tertinggal Ekonomi

Oleh: Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia

Sulawesi Tenggara menjadi contoh menarik. Dalam satu dekade terakhir, provinsi ini berkembang sebagai salah satu simpul utama industri nikel nasional. Aktivitas smelter, kawasan industri, hingga pelabuhan ekspor terus bertambah. Namun, mobilitas logistik masih bertumpu pada jaringan jalan yang tidak dirancang untuk menopang arus barang dalam skala industri.

Ekonomi Sulawesi Tenggara telah memasuki abad ke-21, tetapi sistem logistiknya masih bertumpu pada pola transportasi abad ke-20.

Karena itu, usulan pembangunan jalur kereta api yang kembali disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai aspirasi daerah. Gagasan tersebut lebih tepat dibaca sebagai refleksi atas kebutuhan pembangunan yang semakin mendesak. Ketika aktivitas ekonomi terus berkembang sementara kapasitas infrastruktur relatif stagnan, maka biaya logistik akan menjadi penghambat utama daya saing kawasan.

Namun, pembangunan rel di Sulawesi tidak boleh dipahami sebatas menghubungkan satu kota dengan kota lainnya. Cara pandang seperti ini terlalu sempit. Yang dibutuhkan adalah pembangunan koridor ekonomi yang menghubungkan sentra produksi, kawasan industri, pelabuhan, dan pusat distribusi dalam satu jaringan logistik yang terintegrasi.

Koridor yang menghubungkan Kolaka, Pomalaa, Konawe, hingga Kendari, misalnya, dapat menjadi tulang punggung distribusi hasil hilirisasi nikel menuju pelabuhan ekspor. Di sisi lain, koridor menuju Konawe Selatan maupun Bombana berpotensi memperkuat distribusi hasil perkebunan dan pertanian.

Bahkan dalam jangka panjang, jaringan tersebut dapat dikembangkan hingga terhubung dengan sentra pangan di Muna dan Buton melalui sistem multimoda yang mengintegrasikan pelabuhan penyeberangan dan angkutan rel.

Pendekatan seperti ini akan menghasilkan manfaat yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar mempercepat perjalanan penumpang. Rel kereta akan memangkas biaya distribusi, meningkatkan kepastian waktu pengiriman, mengurangi tekanan terhadap jalan nasional, sekaligus memperkuat daya tarik investasi. Infrastruktur tidak lagi dipandang sebagai proyek fisik, tetapi sebagai instrumen yang meningkatkan produktivitas ekonomi secara menyeluruh.

Rel Untuk Transformasi Kawasan

Di sinilah pelajaran dari Jepang menjadi relevan. Jepang tidak membangun jaringan kereta api hanya karena negaranya telah maju. Justru sebaliknya, jaringan rel menjadi salah satu faktor yang mempercepat industrialisasi, memperluas pasar tenaga kerja, menghubungkan pusat-pusat produksi, dan mengurangi disparitas antarwilayah. Shinkansen memang menjadi simbol kemajuan teknologi, tetapi kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan jaringan rel menciptakan efisiensi ekonomi dalam jangka panjang.

Indonesia tentu tidak perlu menyalin model Jepang secara utuh. Karakter geografis dan struktur ekonominya berbeda. Namun, logika pembangunannya layak diadopsi. Infrastruktur transportasi seharusnya dibangun mengikuti arah transformasi ekonomi, bukan sekadar memenuhi kebutuhan mobilitas saat ini. Ketika kawasan industri tumbuh, pelabuhan berkembang, dan aktivitas ekspor meningkat, maka sistem logistik juga harus berevolusi agar mampu menopang pertumbuhan tersebut.

Dalam konteks Sulawesi, pendekatan ini menjadi semakin penting karena pemerintah tengah mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jawa. Hilirisasi mineral, penguatan industri pengolahan, serta pembangunan kawasan ekonomi baru akan sulit mencapai potensi maksimal apabila biaya logistik tetap tinggi. Tanpa konektivitas darat yang efisien, keunggulan sumber daya alam akan terus terkikis oleh mahalnya biaya distribusi.

Pembangunan kereta api juga perlu diarahkan sejak awal sebagai jaringan angkutan barang. Selama ini, diskursus publik sering kali menempatkan kereta sebagai moda transportasi penumpang. Padahal, bagi wilayah seperti Sulawesi, permintaan terbesar justru berasal dari distribusi kontainer, hasil tambang, semen, jagung, kakao, rumput laut, maupun komoditas perkebunan lainnya. Dengan orientasi tersebut, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar sekaligus memberikan ruang bagi berkembangnya layanan penumpang pada tahap berikutnya.

Pendekatan ini juga sejalan dengan berbagai inisiatif pengembangan sektor pertanian di Sulawesi Tenggara, termasuk program JATI yang mendorong penguatan produksi jagung, hortikultura, dan tanaman industri. Produksi yang meningkat hanya akan menghasilkan nilai tambah apabila didukung jaringan distribusi yang efisien. Rel kereta dapat menjadi penghubung antara sentra produksi, gudang logistik, pelabuhan, hingga pasar domestik maupun ekspor. Dengan demikian, pembangunan pertanian tidak berhenti di lahan, tetapi berlanjut hingga rantai pasok yang lebih kompetitif.

Belajar dari Jepang bukan berarti mengejar panjang rel yang sama. Yang jauh lebih penting adalah meniru keberanian menjadikan infrastruktur sebagai strategi pembangunan ekonomi jangka panjang. Jika Indonesia benar-benar ingin membangun pusat pertumbuhan baru di luar Jawa, maka Sulawesi tidak cukup hanya diberi kawasan industri, pelabuhan, atau smelter.

Pulau ini membutuhkan tulang punggung yang mampu menyatukan seluruh potensi tersebut dalam satu ekosistem logistik yang efisien. Sebab rel kereta pada akhirnya bukan hanya menghubungkan kota dengan kota, melainkan menghubungkan potensi daerah dengan kemakmuran yang lebih merata.



*) Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026