
Menenun warisan dunia di Jazirah Sulawesi Tenggara

Kendari (ANTARA) -
Baru-baru ini, penemuan seni cadas di gua purbakala Indonesia seketika menghebohkan para arkeolog dunia. Tepatnya, Guinness World Records pada 29 Mei 2026, secara resmi menobatkan lukisan cap tangan (hand stencil) di Gua Liang Metanduno, kawasan karst Desa Liang Kabori, Pulau Muna, sebagai seni nonfiguratift ertua di bumi.
Sejarah seni rupa dunia seketika berkiblat ke arah timur kepulauan Nusantara. Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University menyebut maha karya prasejarah ini diperkirakan telah berusia minimal 67.800 tahun. Hasil riset ini pun telah dipublikasikan oleh jurnal sains bergengsi Nature. Bahkan, penemuan monumental ini memuncaki rubrik sains internasional seperti Earth Sky hingga National Geographic.
Sebagai pemuda yang lahir dan besar di Pulau Muna, penulis hendak mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: Apakah penyematan label sertifikat internasional dapat menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat lokal?
Paradoks Potensi Muna
Memang benar, di Indonesia, pada tahun 2025, sektor pariwisata telah berkontribusi berkisar 5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. Namun, di Sulawesi Tenggara, kontribusi pariwisata terhadap PDRB baru menyentuh angka 2 persen. Angkanya bahkan merosot hingga di bawah 1 persen untuk PDRB Kabupaten Muna.
Padahal Pulau Muna merupakan salah satu spot hidden gem (permata tersembunyi) di dunia pariwisata. Daerah ini tidak kekurangan potensi wisata. Selain situs prasejarah Liang Kabori, Muna adalah rumah bagi kreasi layang-layang tertua di dunia. Fakta ini terdokumentasikan jelas dalam salah satu lukisan stencil di gua purbakala itu. Di tingkat lokal, Festival Kaghati Kolope rutin digelar setiap tahun dan kerap diikutkan dalam event internasional.
Di lokasi gua sendiri, terdapat Kampung Tenun Masalili. Keanggunan wastra Nusantara ini sudah diperkenalkan di tingkat nasional bahkan diikutsertakan dalam pameran internasional. Bahkan, alih-alih sintetis, tenun Muna sudah menggunakan bahan pewarna alami. Konsep produk eco-friendly ini hadir berkat dukungan Bank Indonesia. Kebudayaan hidup (living culture) seperti Tari Linda dan Tari Lulo pun tak kalah memikat dan masih ditampilkan dalam perayaan adat istiadat masyarakat Muna. Bukanhanya itu, tidak jauh dari lokasi gua, bentang alam Danau Napabale menyuguhkan wisata bahari yang eksotis. Beberapa paket wisata juga menawarkan spot pemandangan kerumunan lumba-lumba yang sedang bermigrasi.
Walau begitu, pesona pariwisata dan ragam budaya yang dimiliki belum mampu memberi dampak sebesar potensinya.
Akar persoalannya jelas. Pola pengembangan pariwisata masih bersifat musiman dan sporadis. Pemerintah daerah kerap terjebak pada euforia perayaan sesaat. Lalu, sepanjang sisa tahun lalu membiarkan destinasi kembali sepi peminat.
Merumuskan Strategi Baru
Pemerintah butuh paradigma baru. Mengubah warisan purba yang esklusif menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif. Pendekatan manajemen pariwisata modern berbasis formula 3A (Aksesibilitas, Amenitas, Atraksi) dan 2P (Place, People) perlu dirumuskan. Tanpa strategi promosi, Liang Kabori hanya menjadi arsip di jurnal arkeologi.
Kita perlu mengurai hambatan aksesibilitas dan amenitas. Perbaikan infrastruktur akses jalan menuju lokasi destinasi menjadi prasyarat mutlak. Meski akses penerbangan udara dan laut dari dan ke Muna sudah terbuka, jalan aspal yang mulus ikut memberi kesan pertama. Kehadiran wisatawan mancanegara dari negara tetangga sekelas Australia layak menikmatinya.
Begitu pula dengan amenitas. Lonjakan kunjungan pasca-rekor dunia menuntut penyediaan akomodasi yang layak. Dengan memanfaatkan desa wisata, alih-alih membangun hotel berbintang yang padat modal, pemerintah cukup membangun rumah tinggal. Pendekatan ini dipastikan menambah pengalaman berbeda, sekaligus memastikan perputaran uang langsung masuk ke dompet warga desa. Alhasil, efek pengganda (multiplier effect) ikut tercipta.
Berbicara hambatan atraksi. Pemda harus menjahit seluruh potensi ini ke dalam satu Kalender Pariwisata Terintegrasi sehingga menciptakan sebuah pengalaman pariwista yang utuh. Hal ini mengingat Festival Kaghati Kolope sudah memiliki branding yang kuat di panggung internasional sehingga dapat dijadikan sebagai acara jangkar (main event). Festival Budaya dan Wisata di Napabale dijadikan event satelit (side event). Kampung Tenun Masalili dipromosikan sebagai destinasi untuk menawarkan pengalaman interaksi.
Demi memastikan dampaknya berkelanjutan, Upayanya tidak boleh berhenti sampai di sana. Perbaikan infrastruktur fisik tidak efektif tanpa tata kelola situs (place) dan kapasitas manusianya (people) yang baik.
Sejalan dengan rekomendasi Peneliti BRIN dan Grifitth University, pemerintah wajib menetapkan zona konservasi yang ketat di sekitar lokasi situs Liang Kabori. Aktivitas pariwisata dan vandalisme manusia dikhawatirkan merusak warisan prasejarah. Sementara di Napabale, pemerintah perlu menyusun kalender pariwisata tahunan dengan mengusung konsep wisata bahari berkelanjutan.
Pada saat yang sama, investasi terbesar harus dialokasikan untuk mengembangkan kapasitas sumberdaya manusia. Pemerintah dapat membentuk Pokdarwis sebagai komunitas penggerak ekonomi lokal berbasis promosi desa wisata. Anggota komunitas dapat dibekali literasi digital, dan kemampuan manajemen ekosistem bisnis.
Menenun Masa Depan
Hal yang tidak kalah penting, di era media sosial saat ini, strategi orkestrasi promosi digital harus terus digalakkan. Pemda setempat perlu melakukan benchmarking ke destinasi global yang serupa. Sebagai contoh, seni cadas Kakadu National Park di Australia atau Gua Lascaux di Prancis, sukses dikemas menjadi magnet wisata bernilai miliaran dolar.
Berkaca dari konsep yang ditawarkan, Pemerintah dapat menggencarkan penetrasi ke pasar Asia-Pasifik. Apalagi Sultra sudah dipercaya menjadi pelaksana event forum wali kota se-Asia Pasifik. Forum ini dikenal sebagai United Cities and Local Governments Asia Pacific (Persatuan Kota dan Pemerintah Daerah Se-Asia Pasifik) dan telah sukses dihelat pada bulan Mei kemarin. Praktis Indonesia mendapat karpet merah. Tugas berikutnya bagaimana mempromosikan potensi wisata ini pada gelaran event serupa di tahun-tahun berikutnya.
Pada gilirannya, serangkaian langkah konkret ini, dipadukan dengan pengembangan pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism), dapat menciptakan captive consumer ecosystem. Apalagi Indonesia sedang gencar membentuk cashless society hingga lintas negara, tidak lain demi membentuk lanskap ekonomi digital yang terintegrasi di Kawasan Asia.
Harapannya, berbagai strategi taktis ini mampu meningkatkan durasi tinggal wisatawan yang lebih lama (longer stay) hingga minat berbelanja lebih banyak (higher spending). Dampaknya, kunjungan wisata berbuah volume transaksi ekonomi bagi pelaku UMKM penggiat ekonomi kreatif di Sulawesi Tenggara.
Ibarat sehelai kain wastra; berbekal ketelatenan, seutas benang warna-warni yang mulanya terpisah berganti rupa menjadi sebuah maha karya. Begitu pula masa depan Pulau Muna. Tugas pemerintah kini adalah menenun serpihan tradisi lokal dan warisan purba dunia, demi melahirkan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
*) Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia
Oleh Rabiul Misa *)
COPYRIGHT © ANTARA 2026
