
Membaca kenaikan suku bunga, Berburu saham salah harga

Kendari (ANTARA) -
Di era modern, bursa saham acapkali digerakkan ekspektasi publik, alih-alih realitas objektif. Rumor yang muncul dari berita, bergerak jauh lebih cepat ketimbang data. Saat ruang publik dihadapkan pada isu ketidakpastian domestik dan global, seketika saja direspons dengan kepanikan pasar.
Baru-baru ini, Fenomena serupa kembali melanda pasar modal tanah air. Mengawali bulan Juni, terjadi tekanan jual besar-besaran di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG terpantau merosot tajam hingga sempat menyentuh level psikologis di kisaran 5.346. Padahal indeks saham baru saja mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (All-Time High), tepatnya berada di level 9.174 pada Januari kemarin. Dengan kata lain, IHSG telah merosot lebih dari 40% dari puncak keemasannya.
Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan depresiasi nilai tukar Rupiah yang sempat mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Bagi segelintir investor pemula, grafik IHSG yang memerah di layar gawai pintar, mungkin tampak seperti petaka besar. Namun, dalam kacamata ekonomi perilaku (behavioral finance), volatilitas IHSG sejatinya keberuntungan yang tidak disangka-disangka (blessing in disguise). Anomali ini justru menciptakan momentum akumulasi aset berkualitas tinggi yang dibanderol dengan harga murah.
Di sinilah kedewasaan psikologis seorang investor sedang diuji. Apakah kita ikut-ikutan menjual saham karena cemas? atau justru berpikir dingin lalu menjemput momentum emas?
Sejatinya, investor saham harus mampu membaca arah kebijakan bank sentral, agar tahu ke mana arah bandul pasar modal akan berayun. Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral tanah air menjadi kompas moneter. Apalagi, pada 9 Juni 2026, BI baru saja menaikkan suku bunga acuan atau dikenal sebagai BI-Rate hingga 5,5%, usai stagnan di level 4,5%. Kenaikan suku bunga ditempuh demi meredam dampak gejolak eksternal. Langkah taktis ini semestinya dibaca sebagai sinyal kebijakan yang kuat: otoritas moneter sedang menempatkan stabilitas makroekonomi sebagai prioritas utama.
Tak dapat dipungkiri, dalam jangka pendek, kenaikan suku bunga acuan kerap direspons negatif oleh pasar saham. Kenaikan suku bunga meningkatkan biaya modal (cost of fund) bagi emiten/perusahaan yang melantai di bursa, hingga berpotensi menekan margin laba. Tapi, dalam lanskap ekonomi makro, keputusan ini sejatinya "pil pahit" untuk meredam ketidakpastian global.
Sedari awal, BI memang bertujuan menjaga selisih imbal hasil (yield differential) dengan suku bunga global. Sebab, imbal hasil yang lebih kompetitif tampak menarik bagi investasi asing. Arus modal asing (capital inflow) pun berpeluang kembali masuk ke pasar modal. Ketika stabilitas rupiah berangsur pulih, kejatuhan IHSG lebih dalam dapat tertahan.
Ironisnya, saat kepanikan melanda, hukum pasar modal bekerja. Saham-saham berfundamental kokoh sering kali ikut dilego. Harganya jauh lebih murah, hanya karena berada dalam keranjang indeks yang sama. Apalagi ketika investor asing mengurangi eksposurnya di pasar negara berkembang, saham blue chip (perusahaan berkapitalisasi besar) ikut terkoreksi, nyaris tidak rasional.
Bagi investor yang jeli, situasi kejatuhan harga ini justru menciptakan margin of safety (jaring pengaman) yang sangat tebal. Deretan perusahaan pencetak laba bersih yang solid banyak terdiskon. Harganya diperdagangkan jauh di bawah nilai intrinsiknya. Inilah kesempatan membeli barang mewah yang sedang salah harga.
Patut dicatat, membeli saham berfundamental bagus dengan harga murah memberikan dua keuntungan sekaligus. Pertama, investor mendapatkan peluang imbal hasil dividen (dividend yield) yang jauh lebih tinggi di masa depan. Kedua, adanya potensi keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain) saat pasar modal mengalami pembalikan arah.
Faktanya, sentimen politik maupun global selalu bersifat temporer di pasar modal. Ketika pemerintah dan bank sentral menyingsingkan lengan baju, IHSG terbukti mampu kembali melaju. Investor yang berani masuk saat koreksi pasar, berpeluang memanen keuntungan terbesar.
Kabar baiknya, fondasi pasar modal kita hari ini semakin kokoh. Investor tidak lagi terkonsentrasi di Ibu Kota. Kini, pertumbuhan investor domestik juga terjadi di Sulawesi Tenggara.
KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mengungkap kebenarannya. Saat ini, jumlah investor pasar modal (SID) Sultra terus mencatatkan pertumbuhan dua digit. Jumlahnya bahkan telah menembus lebih dari 70.000 investor, dan mayoritas digandrungi kalangan milenial dan Gen Z hingga lebih dari 55%.
Lebih lanjut, pertumbuhan investasi portofolio di Bumi Anoa terakselerasi berkat daya inklusi dan tingkat literasi digital. Masyarakat Sultra mulai melek finansial. Alih-alih menabung uang, beralih banyak kalangan memilih berinvestasi saham. Walau begitu, lonjakan jumlah investor ritel baru ini, tetap diperhadapkan pada tantangan yang lebih besar, terutama kebijaksanaan menyikapi siklus pasar: bullish dan bearish.
Terlebih, dalam dunia investasi, kebijaksanaan seorang investor justru lebih menentukan ketimbang pengetahuan yang dimiliki. Itulah tembok penghalang puluhan ribu investor muda. Investor baru sering kali terjebak fenomena FOMO (fear of missing out). Membeli saham saat IHSG sedang tinggi-tingginya, dan malah menjualnya kembali saat indeks sedang rendah-rendahnya. Mereka mudah terdistraksi oleh sentimen negatif yang berseliweran di berbagai media.
Sebenarnya, dalam menyikapi dinamika pasar pasca-kenaikan suku bunga, investor ritel perlu menerapkan strategi diversifikasi. Momentum kenaikan suku bunga BI dapat dimanfaatkan untuk mencermati saham-saham perbankan. Sebab, sektor keuangan ikut diuntungkan oleh peningkatan margin bunga bersih. Alternatif lainnya, investor bisa beralih ke sektor perusahaan barang konsumsi primer yang lebih defensif.
Bukan hanya itu, disiplin dalam pengelolaan modal atau money management tidak kalah pentingnya. Alih-alih menempatkan seluruh dana sekaligus (all in), ada baiknya melakukan pembelian bertahap. Metode Dollar Cost Averaging (DCA) terbukti jauh lebih aman. Alasannya mencicil pembelian secara berkala saat terjadi market crash,tentu membantu investor mengamankan risiko volatilitas harga.
Pada akhirnya, gejolak yang dialami oleh IHSG beberapa minggu terakhir bukanlah sinyal kehancuran pasar keuangan domestik, melainkan fase penyesuaian sebelum bursa berangsur membaik. Hadirnya Bank Indonesia lewat bauran kebijakan moneter, dapat dibaca sebagai kepastian makroekonomi di tengah badai rumor.
Sejatinya, bagi puluhan ribu investor muda di Sultra, koreksi pasar saham adalah ruang baru untuk belajar bertumbuh, hingga menikmati pertumbuhan. Seperti kata pepatah: selalu ada pelangi yang indah, selepas hujan yang reda.
*) Rabiul Misa, Analis Yunior Bank Indonesia
Oleh Rabiul Misa *)
COPYRIGHT © ANTARA 2026
