Kendari (ANTARA) - Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter tidak dapat berjalan secara parsial, melainkan harus melalui kolaborasi lintas sektor.
"Pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah atau kementerian. Ini adalah kerja bersama antara keluarga, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat,” kata Kepala Puspeka Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami dalam sesi penutupan kegiatan di Aula Rapat Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara, Selasa (28/10).
Ia menjelaskan kegiatan ini dikemas secara bermakna dan edukatif, menyelaraskan proses pembelajaran dengan refleksi mendalam terhadap tantangan pendidikan masa kini.
"Kegiatan ini merupakan awal dari langkah konkret untuk merealisasikan nilai-nilai karakter yang telah dibahas bersama para pemangku kepentingan pendidikan" jelasnya
Selama dua hari, peserta yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan komunitas pendidikan berdiskusi tentang berbagai isu strategis, termasuk konektivitas antara budaya akademik mahasiswa, dunia industri, dan kesiapan pendidikan dalam menjawab kebutuhan zaman.
Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah meningkatnya adiksi gawai dan dampaknya terhadap kesehatan mental anak.
Rusprita menyoroti bahwa adiksi terhadap konten digital, termasuk pornografi, kini menjadi ancaman serius yang bahkan lebih merusak dibandingkan narkoba.
“Anak-anak hanya menghabiskan sekitar empat jam di sekolah. Selebihnya mereka berada di rumah dan masyarakat. Maka, pengawasan dan pendampingan harus melibatkan semua pihak,” tegasnya.
Kementerian juga mengajak sekolah untuk memanfaatkan berbagai sumber daya digital yang telah disiapkan, termasuk dashboard pemantauan sekolah, materi penguatan karakter di media sosial, serta kanal edukatif seperti TikTok yang kini menjadi sarana efektif menjangkau generasi muda.
Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diperkenalkan pada film edukatif bertema karakter untuk jenjang SMP dan SMA, serta refleksi video daring yang dapat digunakan sebagai bahan diskusi di rumah dan sekolah.
Harapannya, praktik baik ini bisa menginspirasi komunitas dan menjadi kebiasaan yang ditanamkan sejak dini.

