
Kisah Inspiratif Kanem, Perempuan hebat di balik kesuksesan ABUJAPI Sultra

Kendari (ANTARA) - Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia atau ABUJAPI, yang merupakan perhimpunan dari berbagai jasa pengamanan di Indonesia tentunya selalu berhadapan dengan berbagai upaya kejahatan, mulai dari perbankan hingga pertambangan.
Meski begitu, hal tersebut tidak mengurungkan niat dari Den Ayu Kanem Kalsum S.H.,M.H, yang merupakan Ketua ABUJAPI Badan Pengurus Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara untuk ikut berkecimpung di usaha jasa pengamanan tersebut.
Dia mulai menggeluti usaha di bidang pengamanan tersebut sejak tahun 2017 silam. Saat itu, usaha yang dijalankannya telah berdiri sejak dua tahun sebelumnya, yaitu di tahun 2015. Badan usaha yang dikerjakannya itu merupakan outsourcing yang di dalamnya terdapat beberapa unit, seperti driver, cleaning service, warehouse, pemborong, dan sekuriti.
Den Ayu berani menggeluti perusahaan tersebut karena telah mempunyai pengalaman selama bekerja di Perusahaan Daerah Kota Kendari kurang lebih selama 15 tahun. Saat itu dia dipercayakan oleh Direktur Perusahaan Daerah untuk mengelola anak perusahaan yang bergerak di bidang tenaga kerja yang bernama PT Prima Utama Sultra.
"Jadi, saya rintis perusahaan itu, ketika 2 tahun saya berpikir kenapa tidak saya mandiri, karena dari situ saya sudah mengetahui semua, titik-titik bisnisnya seperti apa, pola bisnisnya, sistemnya, karena memang waktu itu manajemen dari perusahaan daerah itu melepas begitu (perusahaan kepada Den Ayu)," kata Den Ayu saat ditemui di ruangan kerjanya.
Hal tersebut juga lah yang memberikan dirinya motivasi untuk mendirikan perusahaan sendiri. Sebab, dia berpikir untuk melepas zona nyaman di Perusahaan Daerah dan membuat perusahaan sendiri agar tidak terus-menerus menjadi karyawan.
"Karena memang setelah saya membaca- baca, terus timbul kemudian keberanian. Sebenarnya modalnya keberanian saja, melihat situasi juga pada saat itu sudah menguasai usaha itu jadi saya membuat perusahaan kecil-kecilan di 2015 itu. PT. Prima Mandiri Sultra," ujarnya.
Saat mendirikan perusahaan tersebut, dia langsung menjalin kerjasama dengan Bank Panin untuk menyediakan tenaga kerja, mulai dari sekuriti, cleaning service, kurir, sampai pada teler bank tersebut dengan total tenaga kerja yang disediakan sebanyak 70 orang. Mulai dari situ usaha Den Ayu terus berkembang.
Jatuh Bangun Perusahaan
Dalam menjalankan perusahaannya tersebut tentunya pasti akan bergelombang, yang mana jika dianalogikan selayaknya berlayar di tengah lautan, Den Ayu yang menjadi nakhoda kapal harus siap membawakan kapal tersebut hingga sandar di dermaga tujuan.
Berbagai tantangan dan ujian yang dihadapinya untuk terus bisa menjalankan perusahaan tersebut.
Saat itu, dia pernah terbentur dengan tagihan yang datang, yang dengan kontrak dan kesepakatan bersama itu jika gaji para karyawan harus dibayar terlebih dahulu baru bisa melakukan penagihan kepada perusahaan-perusahaan yang menggunakan jasa mereka.
Dengan mata berkaca-kaca, Den Ayu mengatakan saat-saat itu dia harus merelakan cincin hingga perhiasan miliknya digadai terlebih dahulu untuk membayarkan gaji para karyawan.
"Misalnya mentok keuangan, terus mau bayar ini ternyata tagihan belum masuk, nah itu biasanya waktu sembarang saya tabrak, artinya begini apa yang saya punya, apa yang keluarga punya. Jadi, misalnya "kak kau punya berapa” “aku tidak punya duit saya cuma punya gelang, kalung” itu menangis rasanya kalau diingat. Saya ambil, saya kumpulkan dan kasih masuk penggadaian buat bayar," ucapnya.
Bahkan, saat kekurangan modal dalam usahanya itu, keluarganya juga ikut mendukung dengan meminjamkan sertifikat rumah mereka untuk digadaikan. Sebab, usaha yang dirintisnya itu betul-betul dimulai dari 0.
"Bukan warisan dari keluarga orang tua. Jadi itu yang membuat saya bangga juga sih sama diri saya sendiri," katanya.
Berjalan dengan waktu dalam pendirian perusahaan sejak 2015, saat ini Den Ayu telah memiliki tenaga kerja sekitar 1.000-an lebih di perusahaannya PT Prima Mandiri Sultra.
Awal Mula Masuk ABUJAPI
Mendengar kata ABUJAPI, Den Ayu awalnya sama sekali tidak mengetahui organisasi tersebut. Namun, pada tahun 2017 silam perusahannya hendak mengikuti tender di Bank Indonesia, dan salah satu persyaratan untuk ikut andil dalam tender tersebut wajib memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) dari asosiasi bidang pengamanan.
Dia kemudian langsung mencari tau terkait asosiasi tersebut. Tak berselang lama, dia kemudian bertemu dengan Direktur Binmas Polda Sultra dan bercerita terkait persyaratan KTA untuk asosiasi bidang pengamanan itu. Nasib baik, dari cerita itu dia mengetahui nama Koordinator Binas Mabes Polri merupakan mantan Kapolda Sultra Arkian Lubis.
Tak berselang lama dari komunikasi itu, Den Ayu mendapat angin segar karena Koordinator Binas Polri Arkian Lubis itu akan melaksanakan kunjungan kerja di wilayah Polda Sultra. Dan saat itu salah satu kunjungannya adalah untuk supervisi Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP).
Karena saat itu belum ada asosiasi yang menghimpun seluruh badan usaha yang bergerak di jasa pengamanan, dia kemudian dipercayakan oleh Direktur Binmas Polda Sultra untuk mengakomodir mereka.
Lepas dari kunjungan tersebut, Direktur Binmas Polda Sultra mengatakan kepada Den Ayu untuk ikut membentuk asosiasi jasa pengamanan di Sulawesi Tenggara. Saat itu juga, dia diarahkan untuk berkomunikasi dengan Ketua ABUJAPI, yang saat itu masih diisi oleh Budi Rianto.
"Kemudian, saya diundang untuk mengikuti RAKERDA di Jatim. Jadi, saya pamit sama pak Dir Binmas. Katanya (Dir Binmas) Iya silahkan tapi, ibu harus ada semacam kesepakatan, ibu kesana mewakili siapa, kan harus mewakili BUJP. Akhirnya, kumpul teman-teman, kan udah kebiasaan saya yang suka mengakomodir mereka. Akhirnya pergilah saya ke mewakili mereka ke Jatim ikut RAKERDA. Saya pelajari bagaimana asosiasi ini, nah tertarik," ucap Den Ayu.
Usai mengikuti Rakeda tersebut, pada tahun 2018 dia kemudian mengadakan Musyawarah Daerah di Sulawesi Tenggara, dan dari hasil tersebut para badan usaha jasa pengamanan di Bumi Anoa mempercayakan Den Ayu untuk menjadi Ketua ABUJAPI BPD Sulawesi Tenggara.
"Seperti itu sampai pada akhirnya sampai Musda kemarin juga tidak ada juga yang mau maju, pokoknya ibu lagi, kalau bisa, ibu saja seumur hidup. Tapi kan hanya bisa 2 periode, jadi kemarin kalau tidak salah Februari 2024 itu, kemarin saya Musda untuk periode kedua sampai 2029," jelasnya.
Hari Kartini
Den Ayu memaknai Hari Kartini bahwa gender itu tidak menjadi keterbatasan buat kaum hawa. Akan tetapi, hal tersebut tergantung pada bagaimana disikapi dan diatur.
"Saya anti kalau ada perempuan misalnya masuk kantor terus terlambat karena anaknya ini dan itu," sebut Den Ayu.
Dia selalu mengatakan kepada para pekerja perempuan jika dirinya juga pernah menjadi seperti mereka yang mempunyai anak kecil, yang punya tanggung jawab terhadap suami dan rumah. Terlebih lagi pada saat itu jarak kantor dan rumah Den Ayu sangat jauh. Dibutuhkan waktu kurang lebih 40-an menit untuk sampai di kantor.
"Jadi perempuan itu tidak boleh cengeng, karena meskipun kita juga tidak bisa memungkiri kita punya kodrat sebagai perempuan, apalagi ibu rumah tangga, kan saya punya juga kewajiban terhadap suami dan anak," ucapnya.
Ia menyebut jika Kartini tersebut merupakan sosok motivator sendiri buat kaum perempuan. Apalagi, di zaman dulu dengan serba keterbatasan dia sudah bisa memperjuangkan hak-hak perempuan.
Tentunya hal tersebut juga harus ikut disambut baik. Sebab, di zaman yang sekarang ini teknologi sudah canggih dan kesempatan untuk perempuan telah terbuka lebar dalam berkarir. Terlebih lagi saat ini negara juga telah mengharuskan ada beberapa persen kontribusi perempuan.
"Jadi, saya melihatnya menjadi motivasi tersendiri, tokoh seorang Kartini bahwa “kenapa zaman dulu saja bisa kenapa apalagi zaman sekarang harus bisa," jelasnya.
Oleh La Ode Muh. Deden Saputra
Editor:
Zabur Karuru
COPYRIGHT © ANTARA 2026
