Kemenkumham Sultra sebut belum ada izin pembesukan napi langsung

id Kemenkumham, Sultra sebut, belum, ada, izin, pembesukan, napi, langsung

Kemenkumham Sultra sebut belum ada izin pembesukan napi langsung

Foto dokumen - Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Sultra Muslim. (ANTARA/Harianto)

Kendari (ANTARA) - Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Tenggara (Sultra) menyampaikan hingga saat ini belum ada izin terkait pembesukan narapidana secara langsung di lapas/rutan meski penyebaran COVID-19 di daerah itu mulai terkendali.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Sultra Muslim melalui selulernya di Kendari, Senin,  mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mengizinkan keluarga narapidana melakukan besukan secara langsung karena belum ada izin dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

"Untuk jenguk narapidana masih berlaku yang lama karena kita belum ada perintah dari pusat, masih pake video call," kata dia.

Muslim meminta kepada keluarga narapidana agar tetap bersabar dengan kebijakan tersebut. Meski begitu, dia menegaskan jika pandemi COVID-19 telah berakhir dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham telah mengizinkan, maka besukan langsung dapat kembali dilakukan keluarga narapidana.

Dia menyebut saat ini jumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau narapidana yang menghuni delapan lapas/rutan sebanyak 2.882 orang.

Terpisaha, Kepala Lapas Kelas IIA Kendari Abdul Samad Dama mengatakan pihaknya menyediakan warung telepon khusus (wartelsus) untuk digunakan narapidana atau warga binaan berkomunikasi dengan keluarganya.

Dia juga mengatakan penyediaan layanan tersebut guna mengantisipasi dan mencegah warga binaan menggunakan telepon genggam sebab sudah menjadi peraturan Lapas melarang warga binaan pemasyarakatan (WBP) membawa telepon ke dalam blok hunian.

"Jadi melalui layanan ini mereka bisa berkomunikasi bersama keluarga mereka termasuk memberantas masuknya handphone atau alat komunikasi lain secara ilegal," kata dia.

Dia menyebut saat ini sebanyak empat bilik wartelsus telah dipersiapkan untuk digunakan para WBP berkomunikasi dengan keluarga mereka di luar lapas yang telah diprogram agar tidak dapat menerima telfon dari luar Lapas.

"Untuk penggunanya, para napi diberikan kartu khusus, semacam kartu ATM, tapi ini khusus untuk menelepon keluarga. Jadi itu hanya bisa menelfon kluar, tapi tidak bisa ditelpon balik, karena sudah di-setting," kata Abdul Samad.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2021