Tim SAR belum menemukan nelayan hilang dihantam ombak di Pulau Kaledupa

id nelayan hilang, Wakatobi, kaledupa, basarnas, tim sar

Tim SAR belum menemukan nelayan hilang dihantam ombak di Pulau Kaledupa

Tim pencarian dan pertolongan Pos SAR Wakatobi melakukan operasi pencarian nelayan Jawalia (58) yang dilaporkan hilang diduga dihantam ombak saat melaut di Perairan Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, Jumat (19/2/2021). (ANTARA/HO-Humas Basarnas Kendari)

Kendari (ANTARA) - Tim SAR gabungan belum berhasil menemukan seorang nelayan yang dilaporkan hilang diduga dihantam ombak saat melaut di Perairan Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kepala Basarnas Kendari Aris Sofingi sebagaimana dikutip dalam siaran pers Basarnas dipantau di Kendari pada Jumat malam, mengatakan bahwa tim SAR belum berhasil menemukan nelayan Jawalia (58) pada hari keenam upaya pencarian.

"Hasil pencarian korban hingga hari ke-6 pukul 17.30 Wita belum ditemukan, operasi SAR dihentikan sementara dengan hasil nihil dan akan dilanjutkan besok pagi Sabtu (20/2) pada pukul 07.00 Wita," kata dia.

Ia menyampaikan, pencarian korban melibatkan sembilan orang dari Pos SAR Wakatobi dengan bantuan 15 nelayan setempat dan dua personel Polair Wanci.

"Dalam operasi SAR hari ini tim berusaha mencari korban menggunakan perahu karet dan delapan kapal nelayan," tuturnya.

Aris mengatakan keluarga korban dengan bantuan warga setempat telah berupaya mencari Jawalia namun tidak berhasil menemukan, sehingga kemudian melapor kepada Pos SAR Wakatobi.

"Korban ini keluar melaut sejak 13 Februari 2021, pukul 20.00 Wita dengan menggunakan 'longboat' di sekitar perairan Kaledupa, lalu pada Minggu (14/2), pukul 04.00 Wita korban dihantam badai akibat angin kencang dan gelombang tinggi," kata dia.

Ia mengatakan bahwa jarak antara lokasi kecelakaan Jawalia dengan Pos SAR Wakatobi sekitar 35 mil laut.

Pada operasi pencarian daerah itu cerah berawan, tinggi gelombang 1-2 meter, dan kecepatan angin 2-25 knot.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar