Pasien meninggal akibat COVID-19 di Sultra bertambah jadi 47 orang

id Pasien meninggal COVID-19 di Sultra

Pasien meninggal akibat COVID-19 di Sultra bertambah jadi 47 orang

Suasana pemakaman salah satu warga Desa Pelambua, Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara terkonfirmasi positif COVID-19. (ANTARA/Darwis Sarkani)

Kendari (ANTARA) - Tim Satuan Tugas Penangan COVID-19 Sulawesi Tenggara (Sultra) menyampaikan bahwa data kasus meninggal akibat virus corona jenis baru di provinsi itu bertambah satu orang sehingga totalnya menjadi 47 orang per 19 September 2020.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Sultra La Ode Rabiul Awal di Kendari, Sabtu, mengatakan pasien yang meninggal tersebut berasal dari Kabupaten Buton Utara dan berjenis kelamin laki-laki.

"Hari ini kembali ada satu kasus meninggal COVID-19. Laki-laki 38 tahun asal Kabupaten Buton Utara," katanya.

Selain terjadi penambahan kasus meninggal, Rabiul juga menyampaikan bahwa hari ini Sultra juga ada penambahan 56 kasus positif baru sehingga total kasus konfirmasi positif COVID-19 menjadi 2.116 orang.

"Rincian kasus positif baru hari ini masing-masing empat orang dari (Kabupaten) Konawe dan Buton Tengah. Kemudian Konawe Utara dua orang, Konawe Selatan tujuh orang, (Kota) Kendari 18 orang dan Baubau 21 orang," kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sultra itu.

Pria yang akrab disapa Dokter Wayong ini juga menyampaikan bahwa pasien yang dinyatakan sembuh di Sultra per hari ini juga ada penambahan, namun hanya tujuh orang, di mana semua berasal dari Kabupaten Kolaka, sehingga total kasus sembuh menjadi 1.372 orang.

Sebaran 47 kasus meninggal COVID-19 di Sultra, yakni Kota Kendari 19 orang, Kabupaten Muna tiga orang, Buton empat orang, Kolaka Utara dua orang, Buton Selatan satu orang, Kabupaten Konawe Selatan dua orang, Kolaka dua orang, Konawe dua orang, Kota Baubau 11 orang, dan Buton Utara satu orang.

"Kasus meninggal belum terlapor ke data nasional karena kendala teknis, limit waktu. Kedua ada duplikasi data tiga orang di antaranya dua Kota Baubau dan satu Kota Kendari, yang sudah terlanjur terinput di data nasional, sehingga akan terlihat selisih tiga dengan data pusat. Seperti biasa nanti tersubtitusi dan disesuaikan dengan data yang akan dilapor besok," pungkas Wayong.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar