Di Kendari, 80 persen kebutuhan telur masih dari luar daerah

id telur ayam

Di Kendari, 80 persen kebutuhan telur masih dari luar daerah

Salah satu penjual telur ayam di pasar tradisional di Kendari. Para pedagang menjual telur ayam dengan eceran Rp45.000 hingga Rp55.000 per rak (30 butir). (foto Antara/Azis senong)

Kendari (ANTARA) - Kebutuhan telur di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara sampai saat ini sebagian besar atau sekitar 80 persen masih dipasok dari luar daerah khususnya dari Kabupaten Sidrap, Pindrang, Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepala Dinas Pertanian dan peternakan Sultra, Aris Sismanto di Kendari, Sabtu menyebutkan, kebutuhan telur bagi warga khususnya di Kota Kendari mencapai 2.500 - 3.000 ton per tahun.

"Sedangkan kemampuan produksi peternak ayam petelur di Kendari hanya mampu memenuhi kebutuhan 500 ton per tahun," katanya.

Karena itu, kata dia, kebutuhan telur Kendari diperoleh dari pasokan luar daerah mencapai 2.000 hingga 2.500 ton per tahun.

"Kondisi ini menjadi tantangan bagi para petani peternak setempat agar bisa mengembangkan usaha ternak atau ayam petelur," katanya.

Menurut Aris Sismanto, kendala saat ini para peternak mengaku kekurangan modal untuk mengembangkan usaha, sehingga produksinya tidak maksimal.

Mantan Kadis Pertanian Konawe Selatan itu mengatakan, kendala lain yang tidak kalah penting adalah masalah pakan ternak yang juga masih dipasok dari luar daerah, (Sulsel dan bahkan dari Jawa) sehingga petani membutuhkan modal yang cukup besar.

Pemerintah Sulawesi, terus mendorong para petani khususnya peternak di daerah ini untuk mengembangkan ternak unggas dan meningkatkan produksi telur agar tidak seluruhnya tergantung dari luar daerah.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar