Presiden Joko Widodo beli masker kain produksi Semarang

id presiden jokowi,masker,umkm,covid-19

Presiden Joko Widodo beli masker kain produksi Semarang

Dwi Rahayu Februarti, seorang penyandang disabilitas tunarungu menyelesaikan pembuatan masker transparan di Gemawang, Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Rabu (13/5/2020). Masker transparan guna memudahkan penyandang tunarungu dalam berkomunikasi yang telah dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia itu dijual dengan harga Rp15.000 hingga Rp 20.000 per buahi. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc. (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)

Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengaku ikut membeli produk karya anak bangsa yaitu masker kain yang diproduksi oleh  salah satu perajin batik di Semarang.

"Iya saya kemarin juga beli maskernya nih," kata Presiden Jokowi sambil menunjukkan masker kain warna hitam itu di ruang kerjanya di Istana Merdeka Jakarta, Kamis.

Presiden Jokowi menyampaikan hal tersebut saat berdialog dengan Dea Valencia, pengusaha dan pendiri Batik Kultur dari Semarang, Jawa Tengah saat peluncuran "Gerakan Nasional #BanggaBuatanIndonesia" melalui "video conference".

Saat dialog tersebut, awalnya Dea mengakui bahwa usahanya mengalami tantangan yang sangat besar saat pandemi COVID-19 karena permintaan terhadap produk "fashion" berkurang drastis padahal menurut Dea, selama ini ia hanya memproduksi batik tulis buatan tangan.

"Ini tantangan terbesar yang saya hadapi selama berusaha, ada 100 karyawan dan 50 persennya adalah warga disabilitas. Namun pada awal Maret, dari suami saya, saya tahu ada kelangkaan masker medis maka kami putuskan untuk memproduksi masker kain dan saat ini kami sudah menjual 100 ribu masker kain lewat e-commerce dan disalurkan juga ke pekerja harian yang membutuh," kata Dea.

Batik Kultur bahkan pada pekan lalu menjual masker produksi terbaru bernama "Culture Mask".

"Produk ini sudah langsung terjual kurang dari 24 jam di e-commerce, dari kondisi ini, saya belajar bahwa daya beli 'customer' masih ada tapi kebutuhan dan cara belinya yang berubah, jadi pengusaha harus dapat beradaptasi, berinvoasi dengan dunia digital dan juga bersahabat dengan 'the new normal'," ungkap Dea.

"Jadi ini seluruh produksi batik tulis bergeser ke masker?" tanya Presiden Jokowi.

"Betul Pak, terus terang karena ada WFH (Work From Home) dan PSBB (Pembatasan Sosial Bereskala Besar), otomatis permintaan baju dan 'fashion' sangat berkurang, jadi mau tidak mau agar karyawan ada pekerjaan maka kami 'switch' ke masker, tapi saya masih ada PR karena pengrajin batik kami di Sragen, Pekalongan, Jepara mereka belum kebagian rezeki," jawab Dea.

Dea pun mengatakan masih akan meluncurkan produk masker merah putih untuk menyambut peringatan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2020 nanti.

"Terima kasih bapak sudah membeli masker saya, nanti saya akan kirimkan produk terbaru kami tapi ini masih lama sih Pak, untuk Agustus ada masker merah putih, merahnya yang di atas," kata Dea sambil menunjukkan purwarupa maskernya tersebut.

"Ya makasih tapi saya masih banyak, tapi yang merah putih bagus itu," kata Presiden.

Presiden juga berharap pengusaha lain mencontoh untuk mulai berjualan melalui "platform" digital.

"Ini bisa ditiru oleh pengusaha lain untuk menjual secara digital meski ini masih bergeser produksinya ke masker yang permintaanya meningkat," kata Presiden.
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar