Divonis HIV tak halangi Dhea berbagi pada Jumat berkah

id HIV/AIDS, ODHA

Divonis HIV tak halangi Dhea berbagi pada Jumat berkah

Sejumlah anak mengantre menukarkan kupon Jumat berkah di warung waralaba milik Dhea, Jumat (22/11/2019) (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Jakarta (ANTARA) - Seorang penderita HIV/AIDS, Dhea (bukan nama sebenarnya) tetap bertekad untuk berbagi dengan sesama, melalui usaha warung waralaba dengan menjalankan kegiatan Jumat berkah yakni berbagi kepada mereka yang kurang mampu.

"Sedekah sambil promosi," kata Dhea saat ditemui di warung waralaba miliknya di bilangan Bukit Duri Selatan, Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat.

Dhea (43) mengatakan warung waralaba tersebut sudah berjalan selama enam bulan, dan setiap hari Jumat selalu melakukan kegiatan Jumat berkah.

Dhea menggunakan metode sedekah untuk mempromosikan warung miliknya kepada warga sekitar agar semakin ramai dikunjungi.



Warung tersebut menyajikan berbagai menu makan kekinian seperti "chicken katsu", aneka nasi goreng, aneka Indomie, sop buah Korea, aneka jus dan masih banyak lainnya.

Warung tersebut terletak di pinggir Jalan Bukit Duri Selatan, buka dari jam 08.00 pagi sampai 20.00 WIB, harga juga bervariasi mulai dari yang terendah Rp7 ribu sampai dengan Rp15 ribu.

Untuk menarik minat pembeli, warung waralaba milik Dhea juga menyediakan promo-promo khusus seperti promo sarapan pagi dari pukul 09.00 sampai 11.00 yakni paket nasi goreng dengan teh manis atau soto ayam dengan nasi putih dan teh manis dibandrol Rp15 ribu.

Setiap Jumat Dhea dibantu anaknya membagikan kupon-kupon makan gratis kepada warga tidak mampu, terutama tetangga dekat lingkungan tinggalnya dan dekat warungnya.

Satu paket makanan itu terdiri atas makan berat beserta minuman. Setiap pekan menu yang dibagikan berubah, kadang nasi goreng dengan jus jeruk, nuget, dan kadang roti bakar.



"Setiap hari ada 30 porsi yang saya sediakan, semua gratis," kata Dhea.

Tak mewarisi
Dhea divonis positif sebagai penderita HIV (human immunodeficiency virus)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) pada 2004, setelah dirinya memberanikan diri untuk menjalani tes, tepatnya pada hari ke-40 setelah suaminya meninggal dunia karena HIV.

Ibu empat orang anak itu awalnya tidak tahu kalau suaminya terjangkit HIV/AIDS, penyakit mematikan itu didapatinya dari pemakaian jarum suntik narkoba.

"Saya tidak tahu kalau dia makai (narkoba), tahunya setelah dia dinyatakan positif dan meninggal dunia, kata teman-temannya karena makai jarum suntik," kata orang dengan HIV/AIDS (ODHA) binaan Yayasan Pelita Ilmu (YPI) tersebut.

Begitu tahu dirinya juga tertular virus tersebut dunia seakan runtuh, tapi Dhea merasa bersyukur karena dua anaknya dari suami yang pertama tidak mewarisi virus tersebut dari dirinya dan almarhum suaminya.



"Mereka sumber kekuatan saya, jadi saya terus berjuang untuk bertahan hidup dan membesarkan anak-anak saya," katanya.

Selama 15 tahun berlalu Dhea terus optimistis menjalani hidupnya, sibuk dengan usaha waralaba dan berbagai usaha lainnya yang dijalaninya termasuk menjadi aktivis HIV/AIDS mendampingi para ODHA lainnya.


 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2021