Pemkot Kendari ubah kawasan Petoaha-Bungkutoko menjadi "water front city"

id Pemkot Kendari

Pemkot Kendari ubah kawasan Petoaha-Bungkutoko menjadi "water front city"

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir (podium). (ANTARA/Harianto)

Kendari (ANTARA) - Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengubah kawasan kumuh di  Petoaha dan Bungkutoko menjadi kawasan produktif dengan konsep "water front city".



Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir mengatakan penataan kawasan kumuh Petoaha dan Bungkutoko merupakan kegiatan peningkatan kualitas perumahan dan kawasan permukiman dengan konsep "water front city" yang mengembangkan potensi sumber daya khususnya kawasan pesisir.



"Kawasan Petoaha dan Bungkutoko merupakan kegiatan peningkatan kualitas perumahan dan kawasan permukiman dengan konsep "water front city" yaitu konsep yang mengembangkan potensi sumber daya di kawasan Petoaha dan Bungkutoko khususnya potensi kawasan pesisir," kata Sulkarnain di Kendari, Selasa.



Sulkarnain berharap dengan penerapan konsep "water front city" dapat meningkatkan faraf hidup masyarakat dikawasan Petoaha dan Bungkutoko, serta masyarakat sekitarnya, karena konsep yang diterapkan adalah konsep wisata.



"Konsep yang diterapkan adalah konsep wisata sehingga dengan selesainya pembangunan infrastruktur yang dibiayai Bank Dunia ini, kawasan Petoaha dan Bungkutoko akan menjadi destinasi wisata," ujar Sulkarnain.




Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir (podium berbicara). (ANTARA/Harianto)



Pemerintah Kota berharap seluruh masyarakat dapat menjaga dan memelihara fasilitas yang dibangun.



Saat ini luas kawasan kumuh di Kota Kendari adalah 497,27 hektare, namun  hingga akhir  2018 baru bisa dikurangi seluas 156,92 hektare, hingga ada 340,35 hektare kawasan kumuh yang harus diselesaikan hingga 2022 atau hingga berakhirnya RPJMD 2017-2022.



Namun, pemerintah kota saat ini terus berupaya mengubah setiap sudut kawasan kumuh di Kota Kendari menjadi kawasan yang produktif, salah satunya adalah Petoaha dan Bungkutoko.

Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar