BKKBN Sultra ajak masyarakat Samaturu cegah stunting

id Cegan stunting

BKKBN Sultra ajak masyarakat Samaturu cegah stunting

BKKBN Sultra saat sosialisasi materi dan media komunikasi informasi edukasi (KIE) proyek prioritas nasional promosi dan KIE pengasuhan 1000 hari pertama kehidupan di Desa Latuo Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Jumat. Berikut nama-nama yang suduk didepan adalah Babinsa Desa Latuo, Serka Halik Dahlan, Plt kepala BKKBN Sultra, Jamaluddin (kedua dari kiri) didampingi Camat Samaturu, Ridha Tahrir, Kepala Dinas Dalduk Dan KB Kolaka, Muliati Habibullah, Kepala Desa Latuo, Sarifa Hapisah. (Foto ANTARA/Suparman)

Kolaka (ANTARA) - Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengajak masyarakat Desa Latuo Kecamatan Samaturu Kabupaten Kolaka untuk mencegah stunting atau sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya di daerah itu.

Hal itu disampaikan oleh Plt Kepala   BKKBN Sultra, Jamaluddin, saat acara sosialisasi materi dan media komunikasi informasi edukasi (KIE) proyek prioritas nasional promosi dan KIE pengasuhan 1000 hari pertama kehidupan di Desa Latuo Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Jumat.

"Kami minta ibu-ibu bisa menjadi kader dalam membantu menyuarakan tentang bahaya dan pencegahan stunting di Desa Latuo, karena penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun," katanya.

Dikatakan, stunting perlu diwaspadai karena tidak hanya terindikasi badan pendek tetapi juga perkembangan otak yang tidak normal 100 persen sehingga anak bisa lambat dalam merespon sesuatu.

"Saya ingin menyampaikan pentingnya program BKKBN, salah satunya masalah Stunting agar anak ke depan bisa memiliki kecerdasan dan menjadi generasi harapan bangsa," katanya.

Menurutnya, BKKBN ikut mengambil peran dalam hal pencegahan stunting, karena BKKBN mulai masih dalam kandungan sudah ambil peran, kemudian lahir BKKBN berperan melalui bina keluarga balita, saat remaja sampai saat lansia.

"BKKBN akan terus bekerja keras menurunkan angka stunting hingga 0 persen, dengan mengoptimalkan 1000 hari pertama kehidupan dari 270 hari atau 9 bulan mulai dari dalam kandungan, sampai dengan usia 730 hari atau 2 tahun setelah kelahiran," katanya.

Karena itu katanya, pernikahan itu perlu direncanakan, seperti rencanakan kelahiran dan rencanakan usia perkawinan dimana seseorang yang ingin menikah harus harus mapan secara reproduksi dan secara ekonomi.

"Kami tidak melarang ibu-ibu melahirkan tetapi kami ajak untuk atur jarak kelahiran," katanya.

Disebutkan pula, terdapat satu program pemerintah pusat yakni program Kampung KB, tujuan dibentuknya kampung KB untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

"Kampung KB suatu program pemerintah memadukan semua lintas sektor tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, di dalam kegiatan kampung KB diantaranya adalah pencegahan stunting," ujar Jamaluddin.
Kasubid Bina Ketahanan Remaja BKKBN Sultra, Wiwit Imbar Marwati saat berikan penyuluhan pada sosialisasi materi dan media komunikasi informasi edukasi (KIE) proyek prioritas nasional promosi dan KIE pengasuhan 1000 hari pertama kehidupan di Desa Tambea Kecamatan Pomala, Kabupaten Kolaka, Jumat. (Foto ANTARA/Suparman)

Sementara itu, Kepala Dinas Dalduk dan KB Kolaka, dr Muliati Habibullah, mengatakan penyebab terjadi stunting ada beberpa faktor, salah satu faktpr genetika dan pola pengasuhan.

"Pola pengasuhan itulah yang disebut 1000 hari pertama kehidupan atau dua tahun kehidupan dan ditambah masa kehamilan. Sehingga perbaiki pola pengasuhan untuk cegah stunting," katanya.

Caranya kata dia, selama proses kehamilan harus gunakan gizi seimbang, saat melahirkan jangan di rumah, setelah anak lahir harus gunakan asi ekslusif.

"Pencegahan stunting diantaranya menghindari pernikahan dini, ketika hamil diberi asupan yang bergizi kepada ibu, ketika melahirkan memberikan ASI yang keluar pertama (kolostum) kepada bayi dan memberi makanan yg bergizi," ujarnya.

Ia menambahkan, Program KB harus diketahui 100 warga, tetapi tidak perlu ikut 100 persen warga, di Desa Latuo masih ada 104 pasangan subur belum ikut KB.
 
Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) BKKBN Sultra, Asmar (kedua dari kiri), saat berikan penyuluhan pada sosialisasi materi dan media komunikasi informasi edukasi (KIE) proyek prioritas nasional promosi dan KIE pengasuhan 1000 hari pertama kehidupan di Desa Konaweha Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Jumat. (Foto ANTARA/Suparman)

Sedangkan Camat Samaturu, Ridha Tahrir, saat membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa di Kecamatan Samaturu ada tiga desa yang menjadi lokus stunting yakni Desa Latuo, Desa Konaweha dan Desa Amamotu.

"Pencegahan stunting ini merupakan program pemerintah yang harus diperhatikan dan didukung sehingga anak-anak yang dilahirkan bisa menjadi anak cerdas dan berkualitas agar generasi penerus bangsa," katanya.

Ia berharap semua warga Samaturu khususnya di Desa Latuo bisa mendukung program pemerintah dalam rangka menekan stunting dengan cara senantiasa memeriksa kehamilan bagi ibu-ibu hamil dan selalu mengkonsumsi makanan bergizi.

"Program ini harus dibantu, dan ada pesan bupati Kolaka agar kita bisa menekan angka stunting. Karena Kolaka secara umum menjadi lokus stunting di Sultra bersama Kabupaten Buton," katanya.

Ia berharap, informasi yang diperoleh dalam kegiatan itu bisa ditularkan kepada tetangga agar pemahaman tentang bahaya dan cara mencegah stunting diketahui masyarakat banyak.

Kegiatan yang sama pada hari yang sama juga dilakukan oleh BKKBN Sultra pada dua titik yakni di Desa Tambea, Kecamatan Pomala Kabupaten Kolaka dan Desa Konaweha, KecamatanSamaturu Kabupaten Kolaka.

Kegiatan di Desa Tambea, dihadiri oleh
Wiwit Imbar Mawarti sebagai kasubbid bina ketahanan remaja BKKBN Sultra. Kemudian di Desa Konaweha dihadiri oleh Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) BKKBN Sultra, Asmar dan Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Ekonomi Keluarga BKKBN Sultra, Rahmat.
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar