Rupiah masih melemah akibat The Fed belum turunkan suku bunga acuan

id rupiah melemah,ekonomi dunia,suku bunga acuan,the fed,us dolar

Dolar menguat.

The Fed dipandang hawkish sehingga menopang dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia

Kendari (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi ini mengalami pelemahan terpengaruh sentimen eksternal menyusul minimnya sinyal dari the Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga.

Rupiah melemah sebesar 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.250 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.235 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra di Jakarta, Jumat mengatakan sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah terdepresiasi seiring The Fed yang tampaknya belum akan melakukan penurunan suku bunga acuan (Fed fund rate) dalam waktu dekat.

"The Fed dipandang hawkish sehingga menopang dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia," katanya.

Baca juga: Rupiah kembali tertekan seiring antisipasi sentimen global

Ia mengemukakan bahwa hasil notulensi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memberikan sinyal pemotongan suku bunga the Fed akan dilakukan hati-hati mengingat ekonomi Amerika Serikat dinilai masih cukup
solid.

Kendati demikian, menurut dia, pelemahan rupiah relatif masih terbatas setelah Bank Indonesia secara mengejutkan melakukan pemotongan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Baca juga: Terkait ancaman Trump, China berhenti beli produk pertanian AS,

"Langkah BI itu merupakan persiapan di tengah perlambatan ekonomi global, diharapkan juga turut mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga tingkat inflasi tetap rendah," katanya.

Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan masih panasnya tensi perang dagang juga menjadi salah satu faktor penahan bagi laju mata uang nasional.

"Untuk kesekian kalinya, Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan bahwa dirinya berani melawan praktek perdagangan curang yang selama ini dieksekusi oleh China. Ini bukanlah perang dagang saya, ini adalah sebuah perang dagang yang harusnya sudah berlangsung sejak dulu," paparnya.

Baca juga: Melalui minyak sawit, Indonesia diyakini mampu kuasai ekonomi global
Baca juga: Ekonomi Indonesia tetap positif di tengah ketidakpastian global


Bitcoin : Bank Indonesia tegaskan larangan transaksi uang digital

Pewarta :
Editor: M Sharif Santiago
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar