Rupiah masih melemah akibat pelemahan Yuan disebabkan rencana Trump

id rupiah melemah,perang dagang,ekonomi dunia,kurs,dolar

Rupiah masih melemah akibat pelemahan Yuan disebabkan rencana Trump

RUPIAH MASIH MELEMAH - Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dollar Amerika Serikat (AS) di Valuta Inti Prima, Jakarta, Selasa (27/11/2018). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melemah 0,14% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya di perdagangan pasar spot hari ini. Namun dolar AS masih mampu ditahan di bawah Rp 14.500. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Kendari (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis diprediksi terkoreksi dipengaruhi pelemahan yuan China.

Pada pukul 10.08 WIB, rupiah bergerak melemah 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp14.229 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.225 per dolar AS.

"Pelemahan yuan tampaknya masih akan berlangsung sebagai upaya mengkompensasi rencana penerapan tarif sebesar 10 persen untuk barang-barang impor China senilai US$300 miliar yang akan diberlakukan Presiden Trump pada 1 September mendatang," kata ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Terkait ancaman Trump, China berhenti beli produk pertanian AS

Dalam pekan ini pelemahan mata uang yuan China menjadi sumber tekanan baru terhadap rupiah. Pada awal pekan ini yuan menembus level 7 per dolar AS yang membuat sebagian besar mata uang Asia termasuk rupiah terbawa melemah terhadap dolar AS.

Dengan pelemahan yuan tersebut, , AS pun menuding China sebagai manipulator mata uang.

Dari domestik, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia per Juli 2019 tercatat sebesar 125,9 miliar dolar AS, naik dibandingkan posisi pada Juni 2019 yang sebesar 123,8 miliar dolar AS. Peningkatan ini diperoleh dari penerimaan devisa migas dan valas lainnya, dan penarikan utang luar negeri pemerintah.

Baca juga: China dinilai manipulasi mata uang asing demi hilangkan persaingan

Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 7,3 bulan impor atau 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. BI meyakini posisi tersebut cukup untuk melakukan stabilisasi rupiah.

"Kemungkinan rupiah akan melemah menuju kisaran antara Rp14.230 sampai Rp14.250 per dolar AS," ujar Lana.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis ini menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp14.231 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.275 per dolar AS.

Baca juga: Menkeu: risiko Indonesia lebih kecil dampak perang dagang
Baca juga: Melalui minyak sawit, Indonesia diyakini mampu kuasai ekonomi global
Pewarta :
Editor: M Sharif Santiago
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar