Rupiah menguat seiring sinyal pelonggaran moneter bank sentral AS

id rupiah,dolar,kurs,saham,dovish

Seorang teller Bank Mandiri menunjukkan uang pecahan Rp100.000 dan Rp50.000 di Plasa Mandiri, Jakarta, Senin (8/7/2019). Rupiah pada Senin (8/7/2019) pagi bergerak melemah 66 poin atau 0,47 persen menjadi Rp14.149 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.083 per dolar AS, seiring kemungkinan tidak diturunkannya suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Kendari (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Kamis pagi, menguat seiring sinyal "dovish" atau kebijakan moneter longgar oleh bank sentral AS The Federal Reserve

Pada pukul 10.50 WIB, rupiah menguat 67 poin atau 0,47 persen menjadi Rp14.065 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.132 per dolar AS.

"Penguatan rupiah pagi ini karena 'impact' testimoni Gubernur The Fed Jerome Powell tadi malam," kata analis Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Kamis.

Powell menegaskan bahwa Fed akan bertindak sebagaimana mestinya untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi AS.

Ketidakpastian perdagangan dan kekhawatiran seputar ekonomi global terus membebani prospek ekonomi AS. Pertumbuhan ekonomi AS tampak melambat di kuartal kedua tahun ini.

Pertumbuhan investasi bisnis yang melambat mencerminkan kekhawatiran seputar ketegangan perdagangan dan pertumbuhan global yang lambat.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis ini, menunjukkan rupiah menguat menjadi Rp14.189 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.152 per dolar AS.

BNPB-RI kuncurkan bantuan Rp500 juta untuk Korban banjir Konawe Utara
Pewarta :
Editor: M Sharif Santiago
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar