Danlanal Kendari: seleksi prajurit TNI AL anti-KKN

id tni al

Seleksi calon bintara TNI Angkatan Laut menjalani tes kesehatan (foto Antara/Sarjono)

Kendari (ANTARA) - Peminat calon bintara prajurit TNI Angkatan Laut dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan signifikan karena sistem seleksi anti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Komandan Pangkalan Angkatan Laut Kendari (Danlanal) Kendari, Kolonel Laut (P) I Putu Darjatna di Kendari, Rabu, mengatakan pendaftar juga meningkat karena sosialisasi gencar dilaksanakan di sekolah-sekolah.

"Tidak ada pungutan apa pun serangkaian seleksi prajurit TNI AL. Jangan percaya oknum yang menjanjikan kelulusan dengan dalih apa pun," kata Putu Darjatna.

Bahkan calon atau keluarga calon yang membangun koneksi dengan panitia atau siapan pun untuk maksud kelulusan berdasar kolusi terancam dicoret jika ketahuan," kata Danlanal didampingi Pasintel Mayor Laut (P) Gigih Aptya Anggara.

Data yang dihimpun menyebutkan peminat seleksi bintara gelombang pertama tahun 2019 tercatat 699 orang terdiri dari 608 orang laki laki dan 91 orang wanita.

Angka tersebut meningkat dibandingkan penerimaan gelombang pertama tahun 2018 sebanyak 580 orang yang terdiri dari peserta laki laki 499 orang dan wanita 81 orang.

Sedangkan gelombang kedua tahun 2018 sebanyak 361 orang terdiri dari 361 orang laki laki dan 81 orang perempuan.

Peserta wanita Rosvati mengatakan keikutsertaan seleksi bintara prajurit TNI Angkatan Laut tahun 2019 sudah yang kedua kalinya diikuti setelah tahun lalu gagal.

"Tahun lalu saya gagal memasuki tes kesehatan kedua. Mudah-mudahan nasib lebih mujur tahun ini karena sudah mempersiapkan diri," kata Rosvati.

Meskipun tahun 2018 sudah merasakan getirnya kegagalan menjadi prajurit wanita TNI AL namun tidak berpikir hengkang mengikuti seleksi di kesatuan lain karena sejak kecil bercita-cita menjadi prajurit TNI AL.

Panitia lokal Lanal Kendari menjaring calon prajurit terbaik sekitar 10 persen dari total peminat untuk dikirim mengikuti seleksi lanjutan tingkat nasional.




 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar