Di Kendari, harga ketela pohon capai Rp10.000/kg

id ubi kayu

Di Kendari, harga ketela pohon capai Rp10.000/kg

Ilustrasi

Kendari (Antaranews Sultra) - Produk ketela pohon atau yang lebih dikenal masyarakat Kota Kendari Sulawesi Tenggara ubi kayu, selama beberapa pekan ini cenderung mulai naik dibanding dengan beberapa bulan sebelumnya yang kini harganya sudah mencapai Rp10.000 per kilogram.

Pantauan di sejumlah pasar induk dan tradisional di Kendari, Jumat, harga ubi kaya sebelumnya berkisar Rp8.500 - Rp9.000 per kilogram atau alami kenaikan yang cukup signifikan dibanding dengan sebelumnya.

Keterangan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra menyebutkan, produk ketela pohon pada 2016 dan 2017 mencapai antara 175.086 ton hingga Rp180.000 Ton atau berfluktuasi sesuai dengan musim dan kebutuhan masyarakat.

"Dari jumlah produksi ubi kayu itu belum menjadikan kota Kendari dan kabupaten lain di Sultra mempengaruhi stok pangan karena, makanan nonberas itu masih dijadikan sebagai makanan pokok sampingan setelah beras dan sagu," kata Kadis Ketahanan Pangan Sultra M. Nasir.

Ia mengatakan, dari produk ubi kayu tersebut, tersebar di beberapa kabupaten seperti kabupaten Buton merupakan penyumbang produksi ubi kayu terbesar di Sultra sebesar 43.054 ton atau 25,59 persen dari total produksi ubi kayu di provinsi ini.

Kemudian Kabupaten Muna dengan jumlah produksi 24.293 ton dan berikutnya Kabupaten Buton Utara dengan jumlah produksi mencapai 24.119 ton.

Kabupaten Wakatobi 24.011 ton, Kabupaten Konawe SSelatan 17.394 ton, Kabupaten Konawe Utara 12.216 ton, Kabupaten Kolaka 8.789 ton. Dan kabupaten Konawe 5.471 ton, Kota Kendari 5.017 ton, Kabupaten Kolaka Timur 4.903 ton dan Kabupaten Bombana 2.475 ton.

"Sementara Kota Baubau dan Kolaka masing-masing produksinya 1.925 ton dan 1.356 ton dan Kabupaten Konawe Kepulauan sebanyak 100 ton.

Menurut Nasir, peningkatan produksi ubi kayu dari tahun ke tahun akan bisa ditingkatakan sepanjang tingkat kebutuhan masyarakat meningkat, namun sebaliknya bila masyarakat kurang yang mengkonsumsi maka petani pun cendrung hanya menanaman sesuai dengan kebutuhan pasar selama ini.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar