Dosen UHO edukasi warga Amasara produksi pupuk organik

id pupuk organik

Dosen UHO edukasi warga Amasara produksi pupuk organik

Ketua Tim dosen dari Fakultas Pertanian UHO, Dr H Hasbullah Syaf, SP MSi (baju hijau) saat memberikan penyuluhan dengan percobaan langsung pembuatan pupuk organik kepada kelompok tani di Desa Amasara, Kec Baito, Kabupaten Konawe Selatan, Sultra (17/11). Kegiatan ini merupakan bagian kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Program Kemitraan Masyarakat Internal Perguruan Tinggi (PKMIPT) tahun 2018. (foto Antara/Suparman)

Kendari (Antaranews Sultra) - Tim dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari melakukan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui program Kemitraan Masyarakat Internal Perguruan Tinggi (PKMIPT) dengan kegiatan peningkatan produksi pupuk organik berbahan dasar lokal untuk menyediakan kebutuhan pupuk petani kakao di Desa Amasara, Kecamatan Baito Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
   
Tim dosen yang tergabung dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Dr Hasbullah Syaf, SP MSi selaku ketua tim, kemudian Mardin, SP MSi dan Jufri Karim, SP MSc sebagai anggota tim.
   
Hasbullah Syaf, di Kendari, Minggu, mengatakan, kegiatan penyuluhan tersebut berupa percobaan langsung pembuatan pupuk dan aplikasi di kebun kakao milik rakyat, dilaksanakan pada Sabtu (17/11) di dusun IV Desa Amasara dan dihadiri Kepala Desa Amasara, Herwan Malengga. 
   
"Kegiatan ini dilaksanakan selama sebulan pada mitra program yaitu  Kelompok Tani 'Sara Mase' Dusun 4 Desa Amasara. Kelompok ini memiliki 20 orang petani dan memiliki kemauan yang keras untuk maju dan meningkatkan pendapatan petani," katanya.
   
Menurut ketua Prodi PPW Pascasarjana UHO ini, Kelompok Tani Sara Mase selama ini sudah sering membuat pupuk organik dari bahan dasar lokal, tetapi belum tersentuh teknologi modern dan manajemen pengelolaannya.
   
"Kegiatan pembuatan pupuk organik juga sudah dilakukan melalui penyuluhan dari instansi pemerintah. Namun, aplikasi dirasakan kurang menyentuh kepada petani," katanya. 
   
Kelompok Tani Sara Mase yang berdiri sejak tiga tahun yang lalu kata Hasbullah, senantiasa mencari solusi untuk memecahkan masalah terhadap tanaman pangan dan perkebunan milik mereka agar produksinya bisa meningkat.
   
"Hasil wawancara kami dengan kelompok tani, mereka menginginkan agar kegiatan ini didampingi mulai dari segi penyuluhan, pembuatan hingga aplikasi pupuk. Mengingat, lokasi PKMIPT ini memiliki kelimpahan bahan dasar organik yang berasal dari tanaman dan kotoran hewan yang dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik," katanya.  
   
Menurut Hasbullah, sentuhan teknologi dalam pembuatan pupuk organik yang diberikan kepada warga tersebut, harapannya agar petani dapat menyediakan pupuk organik dengan mudah, dengan cara mengolah limbah tanaman dan sisa kotoran hewan.
   
"Teknologi yang digunakan dinamakan teknologi Bahan Organik Termodifikasi Plus (BOT+). Teknologi ini memanfaatkan bahan limbah tanaman, kotoran hewan, dan memanfaatkan optimal makhluk hidup di bawah tanah untuk mengembalikan fungsi kesuburan tanah," katanya.
   
Teknologi itu lanjut Hasbullah, sangat ramah lingkungan, mudah dilakukan petani karena bahannya banyak ditemukan atau tersedia di lahan petani.
   
"Melalui pelaksanaan program PKMIPT tahun 2018 ini, diharapkan anggota kelompok tani akan mampu menghasilkan kebutuhan pupuk sendiri, dalam rangka meningkatkan efisiensi usaha budidaya tanaman kakao rakyat," katanya.
   
Ia menambahkan, pemanfaatan produk limbah tanaman lokal dan ternak menjadi produk pupuk organik dengan sentuhan tehnologi BOT plus, ini sangat ramah lingkungan, bernilai ekonomis, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan pendapatan petani.
   
Kepala Desa Amasara, Herwan Malengga, mengapresiasi perhatian dan kepedulian pihak akademisi dari Universitas Haluooeo yang memberikan edukasi terhadap warganya terkait pembuatan pupuk organik memanfaatkan bahan dasar lokal dengan sentuhan tehnologi.
   
"Ada beberapa keuntungan yang diperoleh masyarakat dengan kehadiran kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen UHO melalui program PKM ini, yang pertama secara ekonomis warga tidak harus tergantung lagi terhadap penggunaan pupuk anorganik yang harganya mahal, karena bisa menghasilkan pupuk sendiri yakni pupuk organik yang didukung dengan bahan baku tersedia melimpah di tempat," katanya.
   
Manfaat berikutnya kata Herwan, karena warga Desa Amasara telah teredukasi langsung cara membuat pupuk organik dengan sentuhan sedikit tehnologi dan ini diharapkan akan mendorong semangat petani untuk meningkatkan produksi kakao yang akan bermuara pada peningkatna pndapatan petani.
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar