Rupiah menguat ke Rp14.595 seiring sentimen positif domestik

id rupiah,dolar,ekonomi,pasar saham,bursa

Karyawan melayani penukaran Dollar Amerika di salah satu jasa penukaran valuta asing kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (18/9). Rupiah terkoreksi 0,11 persen ke level Rp11.983 per Dollar Amerika, setelah sebelumnya bergerak di kisaran Rp11.980 hingga Rp12.050 per Dollar Amerika. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari (f)

Jakarta (ANTARA News) - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi bergerak  menguat sebesar 70 poin ke posisi Rp14.595 dibandingkan sebelumnya Rp14.665 per dolar AS.
   
Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, Jumat, mengatakan, positifnya laju rupiah berlanjut seiring masih adanya sejumlah sentimen positif dari dalam negeri.
   
"Akan tetapi, adanya peringatan dari Gubernur The Fed terkait potensi masih berlanjutnya kenaikan tingkat suku bunga Fed Fund Rate yang dibarengi permasalahan internal di Benua Eropa antara lain perundingan Brexit di Inggris dan penyelesaian masalah anggaran di Italia membuat laju EUR dan GBP dapat tertekan sehingga dapat dimanfaatkan oleh dolar AS kembali menguat," ujar Reza. 
   
Ia menuturkan, sentimen dari dalam negeri diharapkan masih ada yang kembali positif untuk membuat rupiah bertahan di teritori hijaunya.
   
Nilai tukar rupiah hari ini diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp14.695 per dolar AS hingga Rp14.655 per dolar AS.
   
Pasca diumumkannya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, BI 7-Days Reverse Repo Rate, pergerakan Rupiah mampu kembali melanjutkan kenaikannya. 
   
BI merilis suku bunga acuan yang naik 25 basis poin (bps) menjadi enam persen dengan alasan untuk mempertahankan posisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) di sepanjang tahun ini tetap berada di bawah tiga persen dari PDB. 
     
Di sisi lain, meski terdapat kekhawatiran kenaikan tersebut akan membuat perbankan menyesuaikan suku bunga kreditnya namun, optimisme OJK yang memperkirakan penyaluran kredit dapat bertumbuh 13 persen secara tahunan (yoy) dan perkiraan kondisi likuiditas perbankan yang masih cukup bagus membantu penguatan rupiah. 
   
Tak ketinggalan, adanya penerbitan aturan transaksi derivatif suku bunga rupiah, yaitu interest rate swap dan overnight index swap, serta adanya penilaian posisi defisit neraca perdagangan sebesar 1,82 miliar AS pada Oktober 2018 tidak akan memicu pelebaran defisit transaksi berjalan ke kisaran di atas tiga persen, turut direspon positif.
 

 

Pewarta :
Editor: M Sharif Santiago
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar