Pengguna jasa penyeberangan harapkan pergantian kapal besar

id feri

Kapal Feri Cepat Jetliner. (Foto ANTARA/ Sharif Santiago)

Kendari  (Antaranews Sultra) - Pengguna jasa pelabuhan penyeberangan feri Amolengo (Kabupaten Konawe Selatan) - Labuan Bajo (Kabupaten Buton Utara) mengharapkan pergantian armada kapal ukuran besar yang memiliki daya angkut barang, kendaraan dan penumpang yang lebih banyak.

Pemilik kendaraan roda empat Hery (52) di Kendari, Selasa, mengatakan setiap hari ada kendaraan roda empat yang bermalam di penyeberangan, baik Amolengo maupun Labuan Bajo karena tidak terangkut kapal feri.

"Kapal feri yang ada sekarang maksimal hanya dapat mengakut 22 kendaraan roda empat dan 20-an roda dua sehingga setiap hari ada kendaraan yang tidak terangkut atau menginap di pelabuhan penyeberangan tersebut," kata Hery.

Kapal feri melayani angkutan kendaraan, barang dan penumpang pada jalur pelayaran Amolengo-Labuan Bajo dengan waktu tempuh sekitar 30 menit sebanyak empat trip atau empat kali angkutan pergi pulang.

Pelabuhan penyeberangan Amolengo - Labuan Bajo yang beroperasi sejak dua tahun lalu menjadi pilihan favorit bagi pengguna jasa penyeberangan dari dan ke tujuan Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, Bombana, Kolaka, Kota Bau Bau, Kabupaten Buton, Buton Tengah, Buton Selatan (sebagian), Buton Utara dan Kabupaten Wakatobi.

Sebelum penyeberangan Amolengo - Labuan Bajo beroperasi maka penyebarangan satu-satunya adalah Torobulu (Kabupaten Konawe Selatan) dan Tampo (Kabupaten Muna) yang digunakan bagi mereka yang berpergian dari Kota Kendari tujuan Pulau Buton dan Pulau Muna.

Kepala UPTD Amolengo Armin Malaka mengatakan harapan pengguna jasa penyeberangan tentang pergantian kapal yang lebih besar sudah dilaporkan kepada pihak PT (Persero) ASDP.

"Kami dari perhubungan adalah penyelenggara pelayanan transportasi penyeberangan. Sedangkan pemilik atau yang memiliki wewenang, termasuk pergantian armada kapal adalah PT ASDP atas masukan dan rekomendasi pemerintah pusat melalui Kementrian Perhubungan," kata Armin.





 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar