Obituari - Saiful Hadi Ingin Bentuk Kantor Berita ASEAN

id saiful-mantan

Mantan Direktur Utama Kantor Berita ANTARA, Saiful Hadi. Dia berpulang pada Minggu malam (15/10). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Jakarta, Antara Sultra - "Semoga kita yang ditinggalkan bisa meneruskan cita-cita, keinginan, dan perjuangan almarhum semasa hidup."

Penggalan kalimat doa itu dipanjatkan Menteri Agama, Lukman Saifuddin, saat memimpin doa tahlil di rumah duka Direktur Utama Kantor Berita ANTARA periode 2012-2016, M Saiful Hadi, di Kompleks Pondok Pesantren Darul Maarif di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Senin.

Lukman yang pernah menjadi santri di perguruan Islam yang didirikan KH Idham Chalid, Pahlawan Nasional yang juga ayah kandung Saiful, itu, seolah sangat mengerti dan mengenal bahwa sosok Saiful tak pernah berhenti untuk membuat karya.

Kata-kata bijak, "Berkaryalah hingga ajal menjemput", merupakan untaian kata yang pas ditujukan untuk Saiful Hadi.

Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki berbagai kegiatan dan tidak bisa melewati hari-hari tanpa berbuat sesuatu yang bermanfaat.

Meskipun sosoknya yang cenderung tambun, semasa hidup dan secara rutin meminum berbagai obat akibat gangguan penyakit dalam yang menahun, dia tak ingin menunjukkan dirinya sebagai orang yang memiliki penyakit serius.

Hari-hari dilalui dengan beragam humor sambil melakukan berbagai pekerjaan yang bermanfaat bagi banyak orang. Bagi anak buah, sejawat, dan koleganya, dia memang dikenal tidak memasang jarak dengan siapapun.

Predikat sebagai anak ulama besar sekaligus pejabat negara --ayahnya pernah menjabat Wakil Perdana Menteri, Menteri Sosial ad-interim, Menko Kesra, dan Ketua MPR/DPR, serta memimpin Nahdlatul Ulama (NU) bahkan Partai Persatuan Pembangunan-- tetap membuat Saiful sebagai wartawan yang giat bahkan menjalani karir dari bawah.

Saiful diterima sebagai wartawan setelah lulus seleksi dan lulus Kursus Dasar Pewarta Angkatan V LKBN ANTARA pada 1988. Kantor Berita ANTARA memiliki pendidikan internal untuk para pewartanya, selama berbulan-bulan para "siswa" digodok dari seorang awam di bidang pemberitaan hingga menjadi wartawan muda, sehingga keakraban satu angkatan pendidikan menjadi kuat.

Selama mengikuti kursus yang wajib diikuti setiap calon wartawan Kantor Berita ANTARA itu, Saiful dipercaya sebagai "ketua kelas". 

Rekan-rekan satu angkatannya antara lain ikon jurnalis foto Indonesia yang kini menjadi kurator fotografi di mana-mana, Oscar Motulloh, Pemimpin Redaksi Majalah BUMN Track, Akhmad Kusaeni, yang juga Direktur Pemberitaan Kantor Berita ANTARA periode 2012-2014, Direktur SDM dan Umum Kantor Berita ANTARA periode 2007-2012, Dr Rajab Ritonga, yang merupakan doktor pertama dari Kantor Berita ANTARA, dan kini menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi di Jakarta. Juga Aat Surya Syafaat, yang pernah menjadi Kepala Biro New York Kantor Berita ANTARA dan Direktur Pemberitaan Kantor Berita ANTARA.

Satu hal yang berkesan bagi penulis, saat dia menceritakan pengalamannya adalah aksi beraninya memotret dari tengah jalan saat Menhankam/Panglima ABRI, Jenderal TNI LB Moerdani, saat melakukan inspeksi pasukan dari kendaraan militer agar mendapat sudut pandang gambar yang baik. Walaupun mengejutkan para petugas militer saat itu, hasil karya foto Saiful itu terpampang dan disiarkan berbagai surat kabar terkemuka nasional.

Setiap wartawan memang terpanggil untuk membuat karya terbaik. Saiful lebih banyak berkecimpung sebagai wartawan ekonomi dan sehari-hari meliput berbagai kegiatan di Departemen Pertambangan (kini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) dan hal-hal terkait energi atau perminyakan, pertambangan, dan gas.

Ia juga pernah meliput kegiatan internasional dan pernah bertugas sebagai wartawan di Istana Kepresidenan dan Wakil Presiden.

Pada 1993 Saiful dipercaya menjadi Kepala Biro ANTARA untuk Eropa yang berkedudukan di Belanda sampai 1997. Pada 1999, ia dipercaya menjadi Direktur Keuangan pada masa kepemimpinan Pemimpin Umum LKBN Antara Parni Hadi periode 1998-2000.

Pada era Presiden Abdurrahman Wahid yang juga merupakan ulama besar NU, dia ditawari untuk menjadi Pemimpin Umum Kantor Berita ANTARA, tetapi dia tolak dengan alasan "bajunya kegedean". Ia tak ingin menimbulkan kesan bahwa karena presiden berasal dari NU maka dia yang juga merupakan keluarga besar NU bisa mendapatkan jabatan.

Pimpinan tertinggi adalah Pemimpin Umum Kantor Berita ANTARA, yang sejak 1960-an hingga 2007 selalu dipilih presiden dan diangkat berdasarkan Keputusan Presiden. Setelah menjadi perusahaan umum dan bagian dari BUMN pada 2007 maka jabatannya berganti menjadi Direktur Utama dan dipilih Menteri BUMN.

Setelah beberapa nama menolak, Gus Dur kemudian memilih budayawan yang juga peneliti Mohammad Soebary sebagai Pemimpin Umum Kantor Berita ANTARA sejak 2000 hingga 2005. Pada awal kepemimpinan Soebary, Saiful Hadi dialihtugaskan menjadi redaktur senior untuk bidang luar negeri sampai 2003. Kemudian dia bertugas di Biro Foto Kantor Berita ANTARA, di Pasar Baru, yang digawangi Oscar Motulloh hingga 2005.

Di bawah kepemimpinan Pemimpin Umum Kantor Berita ANTARA, Asro Kamal Rokan, yang sebelumnya Pemimpin Redaksi Harian Republika, Saiful kembali menjadi Direktur Keuangan pada 2005-2007, sebelum terbentuk Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA, dan inilah nama resmi Kantor Berita ANTARA.

Tolak jabatan
Saiful kembali menolak jabatan Direktur Utama yang disodorkan Asro untuk menggantikan dia. Asro pernah menceritakan, Saiful tidak pernah meminta jabatan bahkan ditawari pun tidak mau.

Asro kemudian digantikan Ahmad Mukhlis Yusuf sebagai Direktur Utama Perum Kantor Berita ANTARA periode 2007-2012. Kementerian BUMN menyelenggarakan uji kepatutan dan kelayakan bagi sejumlah calon direksi Kantor Berita ANTARA saat itu. Saiful salah satu calon yang dipanggil. 

Saiful pernah menceritakan bahwa dia dites hari Jumat dan dia datang ke Kementerian BUMN tanpa beban, bahkan mengenakan pakaian koko dan sandal, sedangkan sejumlah calon lain berdasi bahkan berjas.

Suasana formal dan kaku sebagaimana lazimnya uji kepatutan dan kelayakan berubah cair dan penuh humor. Saiful pun terpilih menjadi Direktur Pemberitaan yang merangkap menjadi Direktur Keuangan pada 2007 sampai 2009, dan kemudian setelah itu hanya menjadi Direktur Pemberitaan hingga 2012.

Saiful menjadi pucuk pimpinan di kantor berita resmi negara ini sejak 23 Oktober 2012 hingga 22 Januari 2016. Saiful digantikan Meidyatama Soeryodiningrat yang sebelumnya menjabat Pemimpin Redaksi The Jakarta Post.

Selepas menjabat Dirut, Saiful Hadi menjabat Penasihat Senior Kantor Berita ANTARA hingga dia meninggal dunia, pada sekitar pukul 21.30 WIB Minggu kemarin (15/10).

Kantor Berita ASEAN
Satu pekerjaan yang belum tuntas dikerjakan oleh Saiful adalah membentuk Kantor Berita ASEAN.

Pengalamannya sebagai Sekretaris Tetap Confederation of ASEAN Journalist (CAJ) dan fakta bahwa ASEAN telah memasuki pasar bebas dan dalam rangka solidaritas ASEAN yang lebih kuat di berbagai bidang, mendorong Saiful untuk membentuk kantor berita di tingkat regional itu.

Sebagian besar negara anggota ASEAN yang telah memiliki kantor berita masing-masing juga memperkuat tekadnya untuk menyatukan visi kantor berita tingkat regional di ASEAN ini untuk membentuk wadah bersama. Hanya Singapura dan Brunei Darussalam yang belum memiliki kantor berita di masing-masing negaranya.

Pada 2007, untuk ketiga kalinya, Kantor Berita ANTARA memimpin Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (Organization of Asia-Pacific News Agencies).

Ketika itu terdapat 39 kantor berita anggota OANA dari 33 negara yakni Afghanistan, Australia, Azerbaijan, Bahrain, Bangladesh, Kamboja, China, Korea Utara, Uni Emirat Arab, India, Indonesia, Iran, Jepang, Kazakhtan, Kuwait, Kyrgyztan, Laos, Malaysia, Mongolia, Nepal, Oman, Pakistan, Filipina, Qatar, Korea Selatan, Rusia, Saudi Arabia, Srilangka, Suriah, Thailand, Turki, Vietnam, dan Yaman.

Saiful pernah menyampaikan bahwa untuk kawasan Asia Pasifik saja ada organisasi kantor berita, masak di tingkat ASEAN belum ada.

Untuk itu Saiful kerap menyosialisasikan wacananya itu untuk bisa diwujudkan. Pada ASEAN Editors Summit tahun 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia, misalnya, Saiful mempresentasikan rencana pembentukan kantor berita ASEAN dan dia bersyukur bahwa seluruh peserta pertemuan itu mendukung keberadaan organisasi kantor berita ASEAN.

Beberapa hal yang masih memerlukan perincian lebih lanjut adalah mengenai teknis pelaksanaannya seperti soal pendanaan, aturan main, dan beberapa hal lainnya yang terkait dengan pendirian organisasi tersebut.

Pada persidangan yang diadakan bulan April itu para peserta ASEAN Editors Summit telah menandatangani naskah resolusi untuk meningkatkan kerja sama antara media guna mempromosikan identitas, serta kepedulian dan integritas ASEAN.

Pola kerja sama yang akan dilaksanakan dalam organisasi tersebut diantaranya tukar menukar berita, foto, TV dan produk multimedia lainnya.

Hal terpenting adalah kantor berita ASEAN ini dapat mengimplementasikan semangat dan solidaritas ASEAN agar terwujud lebih kuat melalui berbagai produk informasi dan multimedia sehingga ASEAN bisa semakin tumbuh sebagai kawasan ekonomi yang pesat, tidak kalah dengan negara-negara di kawasan Eropa misalnya.

Organisasi-organisasi media di kawasan ASEAN seperti kantor berita, media cetak, media online dan lainnya diperlukan untuk bersinergi dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap sukses Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Saling bersinergi merupakan cara terbaik dan efektif dalam menyosialisasikan MEA. Suksesnya MEA harus melibatkan parapihak dalam proses integrasi.

Apalagi digadang-gadang bahwa MEA bukan hanya menjamin integrasi ekonomi 10 negara ASEAN, namun juga mampu mencapai kesejahteraan bersama di kawasan tersebut.

Kantor Berita ASEAN juga dapat menangkal berbagai misinformasi atau kesalahpahaman yang kadang terjadi dalam upaya meningkatkan kerja sama di kawasan.

Kini Saiful Hadi telah tiada tetapi semangatnya untuk membentuk Kantor Berita ASEAN harus tetap ada bahkan diwujudkan. Untuk itu perlu dukungan dari berbagai pemangku kepentingan.

Selamat jalan, Pak Saiful...
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar