Gubernur NTT: Masyarakat Jangan Terprovokasi Isu Sara

id ntt

        Kupang (Antara News) - Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya meminta masyarakat di provinsi kepulauan itu jangan sampai terprovokasi sentimen atau isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), terutama yang disebarkan melalui media sosial.

        "Masyarakat jangan terprovokasi dengan isu SARA yang disebarkan lewat pemberitaan ataupun media sosial," katanya kepada wartawan di Kupang, Selasa.

        Dikatakannya hal itu untuk menanggapi maraknya isu SARA yang  provokatif baik di masyarakat maupun media sosial.

        Gubernur NTT dua periode itu mengakui bahwa belakangan ini banyak ditemukan informasi terkait isu SARA yang bersifat menghasut dan memecah belah keutuhan hidup berbangsa dan bernegara.

        Menurut dia, pihak tertentu bisa saja memainkan isu SARA untuk kepentingan politika seperti halnya kasus yang menimpa gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat ini.

        Untuk itu, dia mengimbau kepada masyarakatnya agar berhati-hati mengakses informasi media sosial yang sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Bangsa ini sudah dibangun dengan darah dan air mata dalam perjuangan yang panjang, oleh karena itu tidak boleh dinodai dengan isu SARA dari segelintir orang yang hanya memecah belah," katanya.

        Menurut Lebu Raya, perbedaan SARA merupakan suatu keunikan bangsa Indonesia yang meski diterima sebagai kekayaan karena sejatinya perbedaan itu tidak mungkin dihilangkan. "Intinya bahwa harus saling menghormati dan menghargai antara satu dengan yang lainnya," katanya pula.

        Gubernur menegaskan, tidak ada pihak atau warganya yang ikut melakukan demonstrasi di Jakarta dengan mengatasnamai msayarakat Nusa Tenggara Timur.

        Ditegaskannya hal itu menyikapi informasi yang menyebar di masyarakat terkait keterlibatan oknum tertentu yang mengaku dari Nusa Tenggara Timur. "Tidak ada orang yang mengatasnamakan NTT untuk ikut-ikutan demo di Jakarta," demikian Gubernur Frans Lebu Raya.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar