Sultra Berupaya Jadikan Batang Kelapa Komoditi Ekspor

id batang-kelapa2

"Semakin tua usia batang kelapa itu kualitasnya semakin bagus dan tentunya harga jual juga lebih tinggi,"
Kendari (Antara News) - Pemerintah Sulawesi Tenggara akan berupaya menjadikan batang kelapa yang sudah tidak produktif (usia tua) menjadi produk ekspor yang bernilai ekonomi tinggi bagi daerah.

"Kalau selama ini, batang kelapa milik petani hanya dikrim dalam jumlah terbatas pada antar pulau, maka ke depan diharapkan menjadi salah satu unggulan daerah selain produk hasil tambang, perikanan laut dan pertanian," ujar Asisten III Sekda Provinsi, Saemu Alwy di Kendari, Sabtu.

Mantan Kadis Perindustria Sultra itu mengatakan, selama ini prospek pemasaran antar pulau bahan baku batang kelapa dari beberapa kabupaten di Sultra masih cukup bagus dan diminati pembeli dari luar.

Salah seorang pelaku antar pulau batang kelapa, Ray mengatakan, peminat batang kelapa untuk dijadikan bahan kompenen rumah cukup banyak peminatnya, terutama dari provinsi Bali dan Surabaya.

"Sebenarnya, permintaan batang kelapa cukup besar, namun karena terbatasnya bahan baku sehingga hanya sekali pengiriman dalam satu bulan, itu pun jumlahnya hanya berkisar 10-20 ton sekali dalam pengiriman," katanya.

Menurut dia, batang kelapa setelah tiba pasaran luar, umumnya dijadikan untuk komponen rumah dan sebagian lainnya dijadikan untuk bahan baku berbagai cinderamata.

Harga penjualan batang kelapa dalam bentuk gelondongan masih bervariasi antara Rp750 ribu hingga mencapai Rp1,5 juta per meter kubiknya, tergantung dari kualitas dan usia batang kelaapa itu.

Ia mengatakan, batang kelapa yang banyak dijual dipasaran itu, utamanya kelapa yang sudah tidak produktif lagi dengan usia di atas 30 tahun hingga ada yang mencapai 50 tahun.

"Semakin tua usia batang kelapa itu kualitasnya semakin bagus dan tentunya harga jual juga lebih tinggi," katanya.

Namun untuk mendapatkan batang kelapa yang berkualitas tinggi sudah langka ditemui karena hanya ada dibeberapa daerah pinggiran pantai yang merupakan bekas perkampungan tua jaman penjajah.

Di Sultra, bahan baku batang kelapa baru sekedar dijadikan produk meubel (kursi dan meja makan) sehingga pemintanya pun hanya pada konsumen kalangan tertentu.

"Bila dibanding dengan produk meubel dengan bahan baku kayu jati dan kayu rimba lainnya justru jauh lebih banyak peminatnya, karena konsumen masih menganggap bahwa dengan menggunakan bahan kayu untuk perabot rumah tangga akan lebih mudah dan tahan dibanding dengan produk batang kelapa.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar