Banjir Di Sultra Peringatan Untuk Semua Pihak

Kendari,  (Antara News) - "Tidak ada yang merencanakan apalagi mengharapkan banjir, ini semata-mata musibah dan tidak ada yang harus disalahkan dalam musibah banjir ini".

Itulah kata-kata yang diucapkan Gubernur Sulawesi Tenggara, H Nur Alam, saat konfrensi pers di Kendari, Selasa (16/7) malam, seusai meninjau sejumlah permukiman penduduk di Kota Kendari yang terendam banjir.

Musibah banjir kali ini lanjutnya, merupakan yang terparah dan terburuk sepanjang sejarah terjadinya bencana banjir di daerah ini.

Terparah ujarnya, karena genangan air dengan ketinggian antara 0,5 hingga tiga meter menyebat luas hampir di 60 persen permukian penduduk di Kota Kendari.

Sedangkan banjir di Kabupaten Konawe Selatan, Konawe dan Konawe Utara kata dia, selain merendam sejumlah perkampungan penduduk, juga menghanyutkan sejumlah jembatan dan merendam ribuan hektar sawah siap panen.

"Ribuan hektar sawah milik para petani yang terendam banjir ini, sudah sulit untuk diselamatkan. Kita semua ikut prihatin dengan musibah ini," kata Nur Alam.

Apa yang diungkapkan gubernur Nur Alam di awal memulai konfresnsi pers tersebut memang benar adanya, tak ada satu pun manusia di muka bumi yang merencanakan apalagi mengharapkan terjadinya bencana apa pun.

Namun terhadap musibah banjir yang penyebab utamanya terkait langsung dengan aktivitas pengrusakan alam atau lingkungan secara sistematis dan masif oleh tangan-tangan jahil manusia, mestinya banyak pihak yang harus bertanggung jawab, terutama pihak pemerintah.

Mesti tidak harus disalahkan, pemerintah harus bertangung jawab karena memegang kewenangan mengatur regulasi pemanfaatan bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya,

Boleh jadi, musibah banjir yang terjadi di tengah umat Islam di Kota Kendari dan empat kabupaten di Sultra sedang menjalankan ibadah Puasa Ramadhan, merupakan peringatan untuk semua pihak agar tidak semena-mena memperlakukan alam.

Sebagaimana diketahui, di wilayah Sultra saat ini sudah puluhan bahkan ratusan ribu hektar kawasan hutan yang berubah fungsi menjadi kawasan pertambang.

Bahkan luas areal tambang yang diizinkan pemeirntah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menurut Gubernur Nur Alam, sudah lebih luas dari wilayah daratan Sultra.

Jika pemerintah tidak segera mengendalikan laju pemanfaatan kawasan hutan menjadi areal pertambangan atau permukiman penduduk, bukan hal yang mustahil daerah ini akan menjadi langganan banjir pada setiap kali musim hujan.

"Kejadian ini benar-benar musibah yang sulit dihindari oleh siapa pun. Ini ujian sekaligus peringatan kepada semua pihak agar tidak semena-mena memperlakukan alam," kata salah seroang korban banjir dekat kampus Universitas Muhamadiyah Kendari, La Deka (45).

Menurut dia, bencana banjir yang melanda Kota Kendari dan sekitarnya, akibat penggunaan kawasan hutan terutama di daerah aliran sungai (DAS) Wanggu yang sudah berlebihan.

Beberapa kawasan hutan di DAS Wanggu tersebut kata dia, sudah berubah menjadi kawasan pemukiman penduduk oleh para pengembang perumahan.

"Kalau penggunaan kawasan hutan sebagai permukiman penduduk di sekitar DAS tidak segera dihentikan, banjir seperti kali ini sudah akan menjadi langganan bagi penghuni kota ini," katanya.

Keterangan serupa juga diungkapkan warga lainnya, Aan (27). Menurutnya, akibat menjamurnya pembukaan kawasan permukiman baru, menyebabkan daerah resapan air menjadi menyempit.

"Pemerintah Provinsi Sultra, terutama Pemerintah Kota Kendari, sudah harus mempertimbangkan daya dukung kota ini, untuk memberikan izin kepada para pengembang," katanya.



Hanyutkan jembatan

Sejak musibah banjir melanda wilayah Sultra, Selasa (16/7) dini hari, telah merusak sejumlah jembatan dan ruas jalan di empat kabupaten di Sultra sehingga sulit dilalui kenderaan.

Keempat kabupaten yang dilanda banjir tersebut yakni Kabupaten Konawe Selatan, Konawe, Konawe Utara dan Kolaka serta kota Kendari.

Banjir di Konawe Selatan menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sultra, Zuhri Mahmud, menyebabkan empat jembatan putus, 60 rumah hanyut, 148 rumah rusak dan lima orang korban tewas.

Selain itu, kata dia, seluruh sawah di kecamatan Alangga dan sekitarnya ikut terendam banjir dan rusak.

Belum lagi fasilitas pembangkit linstrik (PLN) di wilayah itu banyak yang roboh akibat banjir,

Menurut GM PLN Cabang Kendari, Ikhwan Fahri, dampak bencana banjir yang terjadi selama beberapa hari ini jaringan yang terparah terjadi di Kabupaten Konawe selatan.

"Konawe Selatan mengalami dampak yang paling parah, dimana lebih dari 65 tiang listrik roboh, 12 trafo terendam dan sekitar 21.000 pelanggan atau 79 persen masih mengalami padam sampai dengan Selasa tanggal 16/7 malam lalu," katanya.

Ia mengatakan, terhaambat pemulihan pasokan listrik khusus di kabupaten Konsel dikarenakan akses jalan di pegunungan Wolasi terputus oleh banjir dan tanah longsor, sehingga mobilisasi petugas PLN Kendari yang akan membawa personil dan materil untuk pemulihan terhambat di Punggaluku.

"Syukurlan, sejak Jumat 19/7, jalur transportasi di wilah itu sudah mulai dikerjakan sehingga akses oleh tim pemulihan jaring, sudah mulai bekerja dengan baik sehingga lambat laut jaringdan diwilayah itu sudah mulai berfungsi kembali," ujarnya.

Sedangkan di Kabupaten Konewe, banjir yang terjadi telah menyebabkan jembatan poros Pohara - Amesiu putus dan hampir seluruh sawah terendam banjir.

Sementara di Kota Kendari menurut Zuhri, musibah banjir tersebar di empat titik wilayah.

Keempat titik wilayah tersebut yakni titik pertama di sekitar sungai Wanggu, Lepo-lepo, Baruga, Mapolda Sultra sampai Andonuhu.

Titik kedua di sekitar sungai Labibia, bundaran Mandonga, pasar lama, gudang Bulog dan kantor PT Pos Indonesia.

Titik ketiga di sekitar sungai Kemaraya, Lahundape dan Mesjid Nurul Falah dan keempat di sekitar kali Kampung Salo hingga Sadohoa dan sekitarnya (kota lama).

"Rata-rata ketinggian air di empat titik tersebut berkisar antara 0,5 meter hingga tiga meter. Titik-titik banjir tersebut telah merendam sekitar 60 persen rumah warga Kota Kendari," katanya.



Kerugian

Sementara itu, Anggota DPR RI, Umar Arsal, memperkirakan kerugian materi akibat banjir yang melanda sejumlah kabupaten dan kota Kendari, bisa mencapai ratusan miliar rupiah.

"Saya baru pulang dari Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan, melihat sejumlah infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak akibat banjir dan melihat masyarakat korban banjir di sejumlah kecamatan di dua kabupaten tersebut," katanya di Kendari, Sabtu (20/7).

Umar mengatakan, Satuan Kerja (Satker) Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sultra dan sejumlah kabupaten dan kota yang dilanda banjir, saat ini tengah menghitung biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali sejumlah infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak.

Setelah data ril soal biaya yang diperlukan untuk membangun kembali jalan dan jembatan yang rusak tersebut kata dia, dirinya sebagai anggota Komisi V DPR akan mengusulkan ke perintah pusat untuk mendapatkan alokasi anggara melalui dana penanggulangan bencana.

"Saya harapkan para Satker Dinas PU Provinsi dan kabupaten/kota segera merampungkan perhitungan biaya yang diperlukan, sehingga minggu depan bisa diusulkan ke pemerintah pusat," katanya.

Ia memperkirakan kerugian akbibat infrasktrur jalan dan jembatan di empat kabupaten dan satu kota di Sultra yang mengalami kerusakan bisa mencapai Rp300 miliar.

Demikian pula ujarnya dengan kerugian masyarakat akibat banjir kali ini, bisa mencapai ratusan miliar pula.