Senin, 21 Agustus 2017

Ketika Agar-agar Buton Tengah Berharga Tinggi

id rumput
Ketika Agar-agar Buton Tengah Berharga Tinggi
ilustrasi
Kendari, Antara Sultra - Agar-agar yang akrab dengan sebutan rumput laut sudah sejak lama tumbuh subur di hampir seluruh wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil yang ada di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara.

Namun potensi sumber daya kelautan yang cukup melimpah di Buton Tengah tersebut tidak dilirik sebagai sumber pendapatan yang menjanjikan kesejahteraan keluarga.

Warga setempat yang mayoritas hidup sebagai nelayan, hanya berkosentrasi memanfaatkan potensi perikanan laut dan berdagang berbagai jenis kebutuhan sebagai sumber pendapatan keluarga.

Karena memang, potensi perikanan laut beragam jenis di wilayah kabupaten yang terdiri dari tujuh kecamatan, 67 desa dan 10 kelurahan itu, cukup melimpah ruah dan menjanjikan kesejahteraan.

"Dulu, sebelum rumput laut bernilai ekonomi, kami masyarakat di Buton Tengah sebagian besar hanya menggantungkan hidup sebagai nelayan tangkap ikan dan sebagian lagi merantau ke berbagai daerah lain di Indonesia, bahkan ke luar negeri seperti Malaysia atau Singapura," kata La Ome (45), petani rumput laut di Desa Rahia, Kecamatan Sangia Wambulu, Kabupaten Buton Tengah di Rahia baru-baru ini.

Saat ini setelah agar-agar bernilai ekonomi tinggi menurut Ome, rata-rata warga di Rahia dan sekitarnya, sudah menjadikan budi daya rumput laut sebagai penopang utama pendapatan keluarga.

Satu keluarga warga petani rumput di desa pesisir pantai Selat Buton itu, minimal miliki area tempat pemiliharaan budi daya rumput laut seluas 25 meter x 50 meter.

"Kami petani yang memiliki area pemeliharaan budi daya rumput seluas itu, bisa menghasilkan panen sekitar empat ton agar-agar kering per sekali panen," katanya.

Keterangan serupa juga disampaikan petani rumput lainnya di Desa Rahia, La Ode Ali (44).

Menurut dia, sejak agar-agar di Buton Tengah bernilai ekonomi tinggi dalam beberapa tahun terakhir, hampir tidak ada lagi warga atau pemuda kampung di desa tersebut yang merantau ke daerah lain di Indonesia atau ke Malaysia.

Rata-rata warga desa dalam satu keluarga, kompak meggeluti usaha budi daya rumput laut sebagai kegiatan sambilan karena budi daya agar tidak memerlukan perawatan seperti budi daya tanaman lain yang mesti diberi pupuk atau obat-obatan.

Kalau pun ada warga yang meninggalkan kampung, hanya anak-anak muda melanjutkan pendidikan atau berdagang mencoba keberuntungan di kota-kota lain di Indonesia.

"Pendapatan kami dari hasil panen budi daya rumput laut, sudah cukup menjanjikan kesejahteraan bagi keluarga kami di Desa Rahia," kata Ali.



Pendapatan tinggi

Para petani rumput laut di Buton Tengah pada musim panen tahun 2016, memperoleh pendapatan tertinggi bila dibandingkan dengan pendapatan yang didapat pada musim panen tahun-tahun sebelumnya.

Itu karena harga produksi rumput laut kering pada musim panen tahun 2016 mencapai Rp15.000 - Rp17.000/kg, sedangkan tahun-tahun sebelumnya, hanya produksi rumput laut paling tinggi Rp7.500/kg.

Dengan harga jual rata-rata Rp15.000 saja per satu kilogram, satu petani yang menghasilkan panen empat sampai enam ton rumput laut kering, bisa memperoleh pendapatan antara Rp25 juta - Rp30 juta setelah dikurangi modal kerja.

"Musim panen tahun lalu, kita petani agar-agar di Buton Tengah benar-benar menikmati hasil penjualan dari produksi rumput laut. Saya sendiri satu musim panen, memperoleh pendapatan Rp25 jutaan," kata La Zauna, petani rumput laut di Desa Rahia.

Tahun-tahun sebelumnya kata dia, pendapatan petani sangat rendah, yakni hanya sekitar Rp6 jutaan permusim panen.

Wilayah Desa Rahia dan sekitarnya termasuk Teluk Lasongko menurut Penjabat Bupati Buton Tengah, La Ode Ali Akbar, sudah ditetapkan sebagai sentra produksi rumput laut di Buton Tengah.

Sebagian besar penduduk di sentra produksi rumput laut tersebut, sudah menggantungkan hidup keluarga dari hasil panen produksi budi daya rumput laut.

"Warga di Rahia dan sekitarnya yang sudah menjadi sentra prokdusi rumput laut di Buton Tengah ada sekitar 5.000 petani yang menggantungkan hidup dari produksi rumput laut," kata Ali.



Terus membaik

Tingkat kesejahteraan petani rumput laut di Desa Rahia khususnya dan Buton Tengah pada umumnya, saat ini sudah terus membaik, seiring dengan terus meningkatnya harga rumput di tingkat petani di wilayah itu.

Indikasi tersebut tampak dari wajah rumah-rumah penduduk di desa-desa wilayah pesisir pantai yang sudah banyak mengalami perubahan.

Rumah-rumah warga petani rumput laut yang sebelumnya didominasi tiang seribu, dinding papan dan atap daun rumbia, saat ini sudah banyak berganti menjadi rumah layak huni, berdinding tembok, lantai keramik dan atap seng.

"Dulu, sebelum kami warga di desa Rahia membudidayakan rumput laut, yang bisa membangun rumah batu (rumah berdinding tembok-red), hanya mereka yang merantau dan berdagang di sejumlah daerah di Indoensia,"kata La Ode Ali.

Sekarang ini ujarnya, sebagian besar warga Rahia sudah mampu membangun rumah batu dari hasil panen budi daya rumput laut.

Warga baru mengalami kesulitan, ketika area budi daya rumput laut terserang hama penyakit atau harga lumput laut di pasaran lagi mengalami penurunan dratis.

"Pada kondisi area budi daya rumput laut di desa ini dilanda serangan hama penyakit, kami warga Rahia benar-benar kesulitan, terutama untuk mendapatkan bibit rumput laut ketika serangan hama berlalu," katanya.

Saat itulah ujarnya, warga membutuhkan kehadiran pemerintah untuk memberikan bantuan, terutama pengadaan bibit rumput laut sehingga para petani dapat memulai kembali usaha budidaya rumput.

Hal lain yang juga dibutuhkan petani rumput laut di Buton Tengah adalah kehadiiran industri pengolahan agar-agar.

Keberadaan industri tersebut, selain bisa memberikan jaminan stabilitas harga bagi petani, juga akan memudahkan petani menjual produksi panen rumputlaut langsung ke industri.

Penjabat Bupati Buton Tengah, La Ode Ali Akbar saat melakukan panen raya budi daya rumput laut di Desa Rahia akhir tahun lalu mengungkapkan akan segera membangun industri pengolahan agar-agar di Buton Tengah.

Untuk biaya pembangunan industri pengolahan agar-agar senilai Rp23 menurut Ali Akbar, miliar telah dialokasikan melalui APBD Buton Tengah 2017.

"Kehadiran industri pengolahan rumput laut di Buton Tengah, selain memudahkan petani menjual produksi panen rumput laut, juga sebagian warga bisa terserap menjadi tenaga kerja di industri pengolahan rumput laut tersebut," kata Ali Akbar. ***2***

(KR-ASA)

(T.KR-ASA/B/T007/T007) 07-01-2017 23:18:12

Editor: Hernawan Wahyudono

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga