Tantangan Kaum Muda Pada Era Globalisasi

id pemuda
Tantangan Kaum Muda Pada Era Globalisasi
Warga mengikuti upacara bendera di halaman situs Persada Sukarno, Desa Pojok, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat (28/10). Upacara bendera di rumah masa kecil Bung Karno tersebut guna memperingati Hari Sumpah Pemuda. (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)
         Pada hari peringatan Sumpah Pemuda 2016 kita sebagai bangsa harus merenungi bagaimana kaum muda memosisikan diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

        Seiring dengan kemajuan teknologi dan komunikasi digital, kaum muda menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

        Psikolog Remaja James E. Gardner menyebut masa muda sebagai masa kritis karena di dalamnya merupakan transisi dari kanak-kanak menuju dewasa.

        Banyak kejutan terjadi pada masa kini. Kejutan itu tidak semata pada perubahan fisik, tetapi juga terjadi perkembangan pemikiran, ideologi, orientasi seksual, orientasi sosial, dan lain sebagaianya.

        Kita sebagai orang tua, tidak bisa mengajarkan kepada anak-anak muda pada masa kini untuk memaknai "menuntut ilmu setinggi langit" dengan batasan pengertian "pergi ke sekolah, mengerjakan PR, mengikuti ujian, dan menerima rapor".

        Nilai-nilai dalam rapor saat ini tidak memberi jaminan bagi anak-anak kita meraih sukses dalam kehidupannya.

        Namun, kenyataannya tidak sedikit para sarjana terbaik kesulitan beradaptasi di tempat kerja, mudah tersinggung, dan menjadi pengangguran.

        Survei yang diterbitkan oleh National Association of Colleges and Employers USA yang dikutip oleh OASE pada tahun 2015 tentang kualitas lulusan perguruan tinggi yang diharapkan dunia kerja menempatkan indeks prestasi (IP) berada di urutan ke-17 dari hasil survei tersebut.

        Dunia usaha secara tegas menyatakan bahwa mencari pribadi yang memiliki kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan berorganisasi, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, dan lain sebagainya dibandingkan IP.

        Di sinilah kaum muda harus menguasai "soft skill", yakni kemampuan dalam interaksi sosial sebagai syarat mutlak raih kesuksesan.

    
               Tantangan
   Selain kemampuan "soft skill", kemampuan "hard skill" yang dipelajari di dunia kampus memberi pengaruh dalam diri kaum muda dalam kompetisi global. Kebijakan pasar tunggal ASEAN yang tren dengan istilah Masyarakat Ekonomi ASEAN harusnya menggugah kaum muda untuk tertantang di dalamnya.

        Pasalnya, dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN ini persaingan pasar tidak hanya pada perputaran "barang", tetapi juga "jasa dan tenaga profesional". Pertanyaannya apakah kaum muda Indonesia siap memenuhi kebutuhan pasar tenaga profesional yang kebutuhannya diperkirakan mencapai 41 persen atau 14 juta jiwa penduduk?
   Salah satu tantangan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN yang harus disiapkan kaum muda Indonesia adalah munculnya diversifikasi masyarakat, yakni pengelompokan masyarakat berdasarkan profesi. Pada ranah ini, masing-masing orang akan mengelompok berdasarkan persamaan profesi. Organisasi profesi tumbuh subur dan bersaing dalam kancah global. Nah, bagaimana dengan kaum muda yang "unskill"?
   Kita patut merenung apakah kaum muda Indonesia mampu menjawab tantangan tersebut ketika mereka kini banyak terpapar dengan beragam permasalahan sosial. Kaum muda Indonesia tidak bisa dipungkiri banyak yang masih gagap dengan perkembangan teknologi digital.

        Alih-alih dapat menggunakan teknologi sebagai sarana mencapai kemasalahatan dalam kehidupan, tidak sedikit kaum muda justru "hanya menjadi pangsa pasar" produk teknologi digital tersebut. Riset pasar e-Marketer pada tahun 2014 menempatkan Indonesia di posisi keenam pengguna internet terbesar di dunia. Jumlah penduduk Indonesia pengguna internet mencapai 83,7 juta orang.

        Dari belanja internet yang besar inilah kaum muda terpapar pornografi, kecanduan game kekerasan, porno aksi, dan pemicu kejahatan di alam nyata lainnya.

        Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2014 menyebutkan sebanyak 25 juta orang memainkan "game online",  sebanyak kurang lebih 11 juta di antaranya bermain setiap hari. Seorang ahli jiwa, Jerald Block M.D. memaparkan pemain "game online" terancam "kecanduan" yang perilakunya mirip dengan pecandu narkoba.

        Perilaku pecandu tersebut, antara lain, tidak mampu mengontrol diri dan waktu, sulit mengendalikan diri karena terjadi "compulsive-impulsive disorder", marah dan cenderung mengamuk tatkala ada nasihat untuk berhenti bermain. Seperti efek candu pada pengguna narkoba, dari perilaku pecandu game ini dapat terlihat bagaimana mereka lebih suka menarik diri dari aktivitas sosial, lelah fisik-mental dan lain sebagainya.

        Selain soal dunia digital, tantangan lain yang dihadapi kaum muda adalah pengaruh ideologi yang dahulu "hanya milik kaum elite intelektual", seperti liberalisme, komunisme, dan lain sebagainya.

        Zaman dahulu ideologi tersebut diserap dari dunia kampus dan dunia aktivisme. Namun, sekarang semua orang dapat berkenalan dengan ideologi tersebut melalui teknologi digital, seperti media sosial.

        Setiap orang dapat terhubung dengan masyarakat lainnya di seluruh belahan dunia. Interaksi yang mudah dan murah ini membawa implikasi mudahnya ideologi masuk dalam keseharian kita.

        Bahkan, dalam media sosial, seperti WhatApps, pertentangan ideologi ramai dibahas dalam beragam tulisan, kisah dan pesannya setiap hari. Bagaimana kaum muda menghadapi berbagai tantangan ini? 
   Selamat Hari Sumpah Pemuda.

    
*) Penulis adalah anggota Tim Pokja Rehabilitasi Sosial Korban Trafficking dan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Kementerian Sosial RI

Editor: Laode Masrafi

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga