Inti pembangunan bangsa esensinya adalah menciptakan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang punya kapasitas intelektual, kematangan emosional dan kualitas spiritual.
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Membangun keluarga sakinah tidak mudah, karena selain membutuhkan kesabaran tinggi dari pasangan suami-istri juga kemampuan mengelola ekonomi keluarga, keteladanan dan kesungguhan dalam mendidik anggota keluarga.

Selain itu, perlu pula memiliki sikap khawatir meninggalkan generasi yang lemah karena keterbatasan kemampuan mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan, kata Menteri Agama Suryadharma Ali pada acara penganugrahan pemilihan keluarga sakinah dan kepala Kantor Urusan Agama (KUA) tingkat nasional di Jakarta, Rabu sore.  

Hadir pada acara itu Ketua MUI KH Ma'ruf Amin, Sekjen Kemenag Bahrul Hayat dan para pejabat dari instansi terkait. Acara pengumuman pemenang keluarga sakinah dan  KUA teladan yang berlangsung itu berlangsung meriah. Penyanyi Cici Paramida ikut menambah suasana makin ramai karena tatkala menyanyi, ia tampil di tengah kerumunan peserta.

Tampilnya penyanyi Cici membuat protokol sibuk mengatur peserta, terutama dari kelompok KUA yang memotret menggunakan telepon genggam mendekati lokasi Menag Suryadharma Ali bersama Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar yang sedang duduk.

Berbeda dengan kelompok keluarga sakinah. Tak satu pun bapak-bapak yang datang dari berbagai daerah itu memotret Cici Paramida yang membawakan lagu rohani.

Kejadian ini, memang bisa dipahami. Menurut Menag, hal itu disebabkan dari kalangan KUA sudah biasa menikahkan orang. Selain itu, kedatangan anggota KUA -- dengan berbagai kesulitan yang dihadapi untuk mencapai ke Jakarta -- tidak disertai isterinya masing-masing.

"Isterinya tak ikut," ujar Suryadharma Ali yang disambut tawa hadirin.

Dalam suasana akrab tersebut, Menag melanjutkan sambutannya bahwa membangun keluarga sakinah tentu banyak cobaan. Selain pasangan suami isteri itu harus banyak mengedepankan sikap sabar, juga harus banyak mengetengahkan sikap pemaaf. Keluarga sakinah, menurut dia, tergolong langka. Terlebih dewasa ini angka perceraian terus meningkat.

Karena itu, keluarga sakinah perlu disosialisasikan, karena dari keteladanannya diharapkan bisa tersusun tatanan masyarakat Indonesia yang jauh lebih baik, ia menjelaskan.

Inti pembangunan bangsa esensinya adalah menciptakan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang punya kapasitas intelektual, kematangan emosional dan kualitas spiritual. Untuk itu, harus diawali pembangunan institusi keluarga yang akan melahirkan pribadi-pribadi berkualitas. Dan, sebagai lembaga sosial terkecil dalam masyarakat, keluarga adalah tumpuan harapan.

Puncak kebahagiaan dan kehormatan seseorang akan bermakna dibanding mereka yang dibesarkan tanpa keluarga. Sebab, melalui keluarga dapat dilahirkan manusia-manusia berkualitas, kuat dan mulia melalui keluarga yang dibangun atas dasar prinsip keyakinan agama yang benar, norma sosial dan aturan hukum yang berlaku di masyarakat.

                                                 Perceraian meningkat

Karena itu, menurut Suryadharma Ali, pemilihan keluarga sakinah -- yang diselenggarakan setiap tahun -- merupakan upaya yang tepat di tengah adanya laporan dari Mahkamah Agung bahwa angka perceraian yang  terus meningkat.

Perceraian, katanya, merupakan pintu gerbang masalah mental dan sosial bagi anak-anak, keluarga besar, bahkan lingkungan sosial terdekat. Belum lagi marak perkawinan sejenis, perkawinan antaragama, perkawinan siri, perkawinan kontrak (mut'ah), perkawinan di bawah umur.

Untuk itu Menag mengingatkan pentingnya membangun keluarga sakinah.

Terkait pemilihan KUA teladan, Menag mengingatkan akan pentingnya mencatatkan perkawinan di daerahnya masing-masing. Sebab, masih ada pasangan yang menikah namun tak mau dicatat. Misalnya, kawin siri. Jika tak tercatat, ke depan, akan membawa implikasi hukum bagi anak-anak mereka dan bahkan persoalan lainnya.

Ia menargetkan pada 2012 KUA sudah dapat mensosialisasikan nikah secara benar kepada masyarakat. Nikah siri dan segala dampaknya yang ditimbulkan harus dapat dicegah. Dengan sosialisasi pernikahan yang benar, maka ke depan, nikah siri akan dapat dihindari, harap Menag Suryadharma Ali.

Berikut penetapan peserta terbaik pemilihan keluarga sakinah dan KUA teladan 2011 dengan para juru: Prof. Dr. H. Achmad Mubarok MA, Prof. Dr. Hj. Zaitunah Subhan MA, Dr. Hj. Nurhayati Djamas MA, Hj. Ratih Sanggarwati SE, Drs. H. Kadi sastrowirjono, Prof. Dr. H. Dadang Hawari Sp.Kj, Drs. H. Najib Anwar MH, dra. Hj. Zubaidah Muchtar.

Pasangan keluarga sakinah terbaik pertama Hj. Tien Partini dan Dr. H. Mulyadi Niti Susastro MM, (asal Jawa Tengah, nilai 1594),  terbaik kedua pasangan Hj.Kamsiatun dan H. Endi Suwandi BA (DKI Jakarta, nilai 1550), terbaik ketiga Hj. Siti Munirah dan H. Muh. Arief (Sulawesi Tengah, nilai 1525).

Pasangan keluarga sakinah harapan satu Hj.  Hamidah dan H. Thamsir (Kepulauan Riau, nilai 1510), harapan kedua Hj. Sofiah Haryati BA dan H. Sholeh Anshori S.Sp.I (Kalimantan Tengah, nilai 1500), harapan ketiga Hj. Umi Wahyu Handayani dan Drs. H. Soewandi MSi (Jawa Timur, nilai 1445).

Sedangkan KUA terbaik pertama Fairuz Malaya S.Ag MSi (KUA Sokaraja, Kab. Banyumas, Jawa Tengah, nilai 97,27), kedua A.M. Nurman S.Ag (KUA Cigalontang, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat, nilai 96,67), ketiga H. Abdul Aziz Kamalluudin MA (KUA Pulo Gadung, Kodya Jakarta Timur, DKI Jakarta, nilai 94,65).

Untuk juara harapan satu diraih Abd. Waris Usman S.Ag MA (KUA Tallo, Kota Makassar, Sulawesi
Selatan, nilai 94,20), harapan kedua Zulfikar S.Ag (KUA Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, nilai 93,76), harapan tiga Drs. Nur Rokhman MA (KUA Gedongtengen, Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta, nilai 91,74).

Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar